Hukum Ucapan Selamat Natal Menurut Empat Madzhab

Hukum Ucapan Selamat Natal Menurut Empat Madzhab

Fatwapedia.com – Pro kontra terkait hukum mengucapkan Selamat Hari Raya Non Muslim seperti ucapan selamat natal bagi pemeluk agama nasrani menjadi perbincangan yang serius dikalangan para ulama.
Antara yang melarang dan membolehkan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Lantas seperti apa pandangan ulama madzhab yang empat, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali terkait hukum ucapan selamat natal? Simak ulasan selengkapnya dalam artikel ini yang akan memuat pendapat ulama madzhab tentang hukum mengucapkan selamat natal pada pemeluk agama nasrani.
Bismillah al Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:
Pada sebuah agama, hari raya merupakan salah satu simbol utamanya. Bukan sekedar hari biasa; itu hari raya bergembira, makan-makan, juga beribadah. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَإِنَّ عِيدَنَا هَذَا الْيَوْمُ
“Sesungguhnya setiap kaum ada hari rayanya masing-masing, dan sesungguhnya hari raya kita adalah hari ini.”
Ketika manusia bergembira, biasanya saudaranya memberikan ucapan selamat, termasuk selamat hari raya seperti selamat Natal, Paskah, Nyepi, dll. Lalu, bagaimana Islam memandang hal ini?
Dalam hal ini ada dua pendapat ulama, khususnya ulama masa kini: yaitu haram mengucapkan selamat, dan ada yang membolehkan jika untuk basa basi komunikasi saja.
Pertama. Pihak yang mengharamkan
Ada sejumlah alasan yang dikemukakan, di antaranya:
1. Ucapan selamat hari raya agama lain tidak pernah dilakukan generasi awal Islam, baik Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan imam yang empat. Padahal mereka juga hidup berdampingan dengan non muslim, tapi kita belum dapatkan riwayat tentang itu.
2. Secara khusus, Rasulullah ﷺ melarang mengawali ucapan salam/selamat kepada Yahudi dan Nasrani, sebagaimana hadits berikut: Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ
“Janganlah memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani.”
3. Mengucapkan selamat, menunjukkan pembenaran dan pengakuan atas aqidah mereka, sebab mereka bergembira atas hari raya agama mereka yang kafir menurut Islam. Walau di hati pengucapnya tidak ada perasaan seperti itu, tetaplah non muslim tersebut merasa mu’taraf (diakui) kebenaran aqidahnya. Seharusnya yang dilakukan seorang muslim adalah menunjukkan kekeliruan aqidah mereka bukan justru ikut bergembira atas perayaan mereka.
4. Mengucapkan selamat, biasanya didasari pula “tidak enak hati” kepada mereka, yang sebenarnya ini menunjukkan kekalahan mental kita terhadap mereka. Padahal mereka sendiri tidak pernah “tidak enak hati” kepada umat Islam, ketika menuduh Allah ﷻ punya anak misalnya, atau menuduh Allah ﷻ adalah satu di antara tiga.
5. Mengucapkan selamat, kepada maksiat seperti orang yang  berjudi, mabuk, dan zina saja tidak pantas, maka apalagi mengucapkan selamat kepada maksiat tertinggi yaitu penuhanan kepada selain Allah, atau  menuduh Allah ﷻ punya anak. Maka, ini lebih tidak pantas lagi.
Maka dari itu, kita tidak dapati perbedaan pendapat tentang larangan menampakkan kegembiraan dan mengucapkan selamat hari raya, pada ulama-ulama terdahulu di berbagai madzhab. Perbedaan itu baru ada di abad 20 saja. Sebagai contoh:

1. Madzhab Hanafiyah

Imam Ibnu Nujaim Al Hanafiy Rahimahullah  menyebutkan bahwa sekedar ikut senang saja sudah diharamkan apalagi mengucapkan selamat:
قال أبو حفص الكبير رحمه الله : لو أن رجلا عبد الله تعالى خمسين سنة ثمجاء يوم النيروز وأهدى إلى بعض المشركين بيضة يريد تعظيم ذلك اليوم فقد كفر وحبط عمله وقال صاحب الجامع الأصغر إذا أهدى يوم النيروز إلى مسلم آخر ولم يرد به تعظيم اليوم ولكن على ما اعتاده بعض الناس لا يكفر ولكن ينبغي له أن لا يفعل ذلك في ذلك اليوم خاصة ويفعله قبله أو بعده لكي لا يكون تشبيها بأولئك القوم , وقد قال صلى الله عليه وسلم } من تشبه بقوم فهو منهم { وقال في الجامع الأصغر رجل اشترى يوم النيروز شيئا يشتريه الكفرة منه وهو لم يكن يشتريه قبل ذلك إن أراد به تعظيم ذلك اليوم كما تعظمه المشركون كفر, وإن أراد الأكل والشرب والتنعم لا يكفر
“Abu Hafs Al-Kabir berkata: Apabila seorang muslim yang menyembah Allah selama 50 tahun lalu datang pada Hari Nairuz (hari raya kaum Majusi)  dan memberi hadiah telur pada sebagian orang musyrik dengan tujuan untuk ikut memuliakan hari itu, maka dia kafir dan terhapus amalnya.
“Berkata penulis kitab Al Jami’ Al Asghar: Apabila memberi hadiah kepada sesama muslim dan tidak bermaksud mengagungkan hari itu, tetapi  hanya karena itu telah menjadi tradisi sebagian manusia maka tidak kafir, akan tetapi sebaiknya tidak melakukan itu pada hari itu secara khusus dan melakukannya sebelum atau setelahnya supaya tidak menyerupai dengan kaum tersebut. Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka.” Penulis kitab Al Jami’ Al Asghar berkata: Seorang lelaki yang membeli sesuatu yang dibeli orang kafir pada hari Nairuz dia tidak membelinya sebelum itu maka apabila ia melakukan itu ingin mengagungkan hari itu sebagaimana orang kafir maka ia kafir. Apabila berniat untuk makan minum dan bersenang-senang saja, maka tidak kafir.”

2. Madzhab Malikiyah

Imam Ibnul Haj Al Malikiy Rahimahullah menyatakan: 
ومن مختصر الواضحة سئل ابن القاسم عن الركوب في السفن التي يركب فيها النصارى لأعيادهم فكره ذلك مخافة نزول السخط عليهم لكفرهم الذي اجتمعوا له . قال وكره ابن القاسم للمسلم أن يهدي إلى النصراني في عيده مكافأة له . ورآه من تعظيم عيده وعونا له على مصلحة كفره . ألا ترى أنه لا يحل للمسلمين أن يبيعوا للنصارى شيئا من مصلحة عيدهم لا لحما ولا إداما ولا ثوبا ولا يعارون دابة ولا يعانون على شيء من دينهم ; لأن ذلك من التعظيم لشركهم وعونهم على كفرهم وينبغي للسلاطين أن ينهوا المسلمين عن ذلك , وهو قول مالك وغيره لم أعلم أحدا اختلف في ذلك
“Dari Mukhtashar Al Waadhihah,  Ibnu Al Qasim ditanya soal menaiki perahu yang dinaiki kaum Nasrani pada hari raya mereka. Ibnu Qasim tidak menyukai (memakruhkan) hal itu karena takut turunnya kemurkaan (Allah) atas mereka, lantaran berkumpulnya mereka di atas kekufuran. Ibnu Al Qasim juga tidak menyukai seorang muslim memberi hadiah pada Nasrani pada hari rayanya sebagai hadiah. Dia berpendapathal itu termasuk mengagungkan hari rayanya dan menolong kemaslahatan kufurnya. Tidakkah engkau tahu bahwa tidak halal bagi muslim membelikan sesuatu untuk kaum Nasrani untuk kemaslahatan hari raya mereka baik berupa daging, baju; tidak meminjamkan kendaraan dan tidak menolong apapun dari agama mereka karena hal itu termasuk mengagungkan kesyirikan mereka dan menolong kekafiran mereka. Dan hendaknya penguasa melarang umat Islam melakukan hal itu. Ini pendapat Malik dan lainnya. Saya tidak tahu pendapat yang berbeda.”

3. Madzhab Syafi’iyyah

Imam Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’iy Rahimahullah mengatakan:
ثم رأيت بعض أئمتنا المتأخرين ذكرما يوافق ما ذكرته فقال : ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهدية لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون وقد قال صلى الله عليه وسلم } من تشبه بقوم فهو منهم { بل قال ابن الحاج لا يحل لمسلم أن يبيع نصرانيا شيئا من مصلحة عيده لا لحما ولا أدما ولا ثوبا ولا يعارون شيئا ولو دابة إذ هو معاونة لهم على كفرهم وعلى ولاة الأمر منع المسلمين من ذلك ومنها اهتمامهم في النيروز… ويجب منعهم من التظاهر بأعيادهم
“Aku melihat sebagian imam kita muta’akhirin (generasi belakangan)   menyatakan pendapat yang sama denganku, lalu dia berkata: Termasuk dari bid’ah terburuk adalah persetujuan kaum muslimin kepada Nasrani di hari raya mereka dengan melakukan tasyabbuh (menyerupai), yaitu dengan makanan,  memberi hadiah,  dan menerima hadiah pada hari itu. Kebanyakan orang yang melakukan itu adalah Mishriyun (orang-orang Mesir). Nabi ﷺ bersabda:  “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka”. Ibnu Al Haj berkata: Tidak halal bagi muslim menjual sesuatu pada orang Nasrani untuk kemasalahan hari rayanya baik berupa daging, kulit atau baju. Hendaknya tidak meminjamkan sesuatu walupun berupa kendaraan karena itu menolong kekufuran mereka. Dan bagi pemerintah hendaknya mencegah umat Islam atas hal itu. Salah satunya adalah perayaan Nairuz … dan wajib melarang umat Islam menampakkan diri pada hari raya orang kafir.”
Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Rahimahullah juga berkata:
يُعَزَّرُ مَنْ وَافَقَ الْكُفَّارَ فِي أَعْيَادِهِمْ وَمَنْ يَمْسِكُ الْحَيَّةَ وَمَنْ يَدْخُلُ النَّارَ وَمَنْ قَالَ لِذِمِّيٍّ يَا حَاجُّ وَمَنْ هَنَّأَهُ بِعِيدِهِ وَمَنْ يُسَمِّي زَائِرَ قُبُورِ الصَّالِحِينَ حَاجًّا وَالسَّاعِي بِالنَّمِيمَةِ لِكَثْرَةِ إفْسَادِهَا بَيْنَ النَّاسِ قَالَ يَحْيَى بْنُ كَثِيرٍ يُفْسِدُ النَّمَّامُ فِي سَاعَةٍ مَا لَا يُفْسِدُهُ السَّاحِرُ فِي سَنَة
Dita’zir (dihukum) orang yang menyepakati  orang kafir pada hari raya mereka, orang yang memegang ular, yang masuk api, orang yang berkata pada kafir dzimmi “Hai Haji”, orang yang mengucapkan selamat pada hari raya (agama lain), orang yang menyebut peziarah kubur orang saleh dengan sebutan haji, dan pelaku adu domba karena banyaknya menimbulkan kerusakan antara manusia. Berkata Yahya bin Abu Katsir:  “Kerusakan pengadu domba selama satu jam sama seperti kerusakan ahi sihir dalam setahun.”

4. Hambaliyah

Imam Al Buhutiy Al Hambaliy  Rahimahullah mengatakan:
 (وَيَحْرُمُ تَهْنِئَتُهُمْ وَتَعْزِيَتُهُمْ وَعِيَادَتُهُمْ) ؛ لِأَنَّهُ تَعْظِيمٌ لَهُمْ أَشْبَهَ السَّلَامَ. (وَعَنْهُ تَجُوزُ الْعِيَادَةُ) أَيْ: عِيَادَةُ الذِّمِّيِّ (إنْ رُجِيَ إسْلَامُهُ فَيَعْرِضُهُ عَلَيْهِ وَاخْتَارَهُ الشَّيْخُ وَغَيْرُهُ) لِمَا رَوَى أَنَسٌ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَادَ يَهُودِيًّا، وَعَرَضَ عَلَيْهِ الْإِسْلَامَ فَأَسْلَمَ فَخَرَجَ وَهُوَ يَقُولُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ بِي مِنْ النَّارِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَلِأَنَّهُ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ. (وَقَالَ) الشَّيْخُ (وَيَحْرُمُ شُهُودُ عِيدِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى) وَغَيْرِهِمْ مِنْ الْكُفَّارِ (وَبَيْعُهُ لَهُمْ فِيهِ) . وَفِي الْمُنْتَهَى: لَا بَيْعُنَا لَهُمْ فِيهِ (وَمُهَادَاتُهُمْ لِعِيدِهِمْ) لِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ تَعْظِيمِهِمْ فَيُشْبِهُ بَدَاءَتَهُمْ بِالسَّلَامِ. 
“Haram mengucapkan tahni’ah (selamat), ta’ziyah (ziarah orang mati), iyadah (jenguk orang sakit) kepada non-muslim karena itu berarti mengagungkan mereka sama dengan menyerupai (mengucapkan) salam. Boleh  menjenguk sakitnya kafir dzimmi apabila diharapkan Islamnya dan hendaknya mengajak masuk Islam. Karena, dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Nabi ﷺ pernah iyadah pada orang Yahudi dan mengajaknya masuk Islam lalu si Yahudi masuk Islam lalu berkata, “Alhamdulillah Allah telah menyelamatkan aku dari neraka.” Dan karena menjenguk orang sakit termasuk akhak mulia. Haram menghadiri perayaan mereka karena hari raya mereka, karena hal itu termasuk mengagungkan mereka sehingga hal ini menyerupai memulai ucapan salam.”
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah menjelaskan:
 وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ. وَكَثِيرٌ مِمَّنْ لَا قَدْرَ لِلدِّينِ عِنْدَهُ يَقَعُ فِي ذَلِكَ، وَلَا يَدْرِي قُبْحَ مَا فَعَلَ، فَمَنْ هَنَّأَ عَبْدًا بِمَعْصِيَةٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ كُفْرٍ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِمَقْتِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ
“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, imlek, waisak, dll. pen) adalah  hal  yang diharamkan berdasarkan  kesepakatan kaum muslimin.  Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan yang semacamnya. Jika memang orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, namun  itu termasuk dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah.
Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia  layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”
Apa yang dikatakan Imam Ibnul Qayyim menegaskan adanya kesepakatan ulama masa lalu tentang haramnya mengucapkan selamat hari raya non muslim.
(Dikutip dari Fiqih Praktis Sehari-Sehari, karya Farid Nu’man Hasan, hal. 76-92, Penerbit: Gema Insani)

Leave a Comment