Ucapan Selamat Natal yang Dibolehkan oleh Sebagian Ulama Kontemporer

No comments

Fatwapedia.com – Setelah diuraikan secara panjang lebar pada artikel sebelumnya mengenai pendapat para ulama yang melarang mengucapkan selamat pada hari raya non muslim. Kini akan dibahas melalui artikel ini Pihak yang membolehkan ucapan Selamat untuk basa basi 

Sebagian ulama zaman sekarang membolehkannya, hanya untuk basa basi agar tidak ada hambatan komunikasi antara umat Islam dengan mereka. Apalagi bagi yang hidup bertetanggaan dengan non muslim seperti di daerah minoritas muslimnya, atau teman kantor, atau bahkan masih kerabat dekat dan masih ada pertalian keluarga. Mereka pun memberikan syarat dalam pembolehan yaitu tidak boleh untuk kafir harbiy, penjajah seperti Zionis, dan tidak sampai menunjukkan ridha terhadap aqidah mereka.

Mereka punya sejumlah alasan, di antaranya:

1. Keumuman anjuran berkata-kata yang baik kepada siapa pun. Kepada Fir’aun, Allah ﷻ memerintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ‘Alaihimassalam perkataan yang lemah lembut (qaulan layyina). Kepada kedua orang tua Allah ﷻ memerintahkan kita perkataan yang mulia (qaulan kariima). Kepada sesama orang beriman Allah ﷻ memerintahkan perkataan yang benar (qaulan sadiida).

2. Allah ﷻ tidak melarang kita berbuat  baik dan adil kepada orang kafir yang tidak memerangi dan mengusir kaum muslimin dari negerinya, yang Allah ﷻ larang adalah jika kita berbuat baik kepada orang kafir yang menzalimi kita.

Allah ﷻ berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al Mumtahanah: 8)

3. Khusus tentang Natal, mereka beralasan dengan ucapan Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam yang mengucapkan selamat atas kelahiran dirinya:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 33)

Ayat ini dijadikan dasar, bahwa Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam sendiri mengucapkan selamat atas hari kelahirannya. Pemahaman dan pendalilan seperti ini tidak kita jumpai pada kitab-kitab tafsir salaf. Ditambah lagi, dalam konsep Nasrani, Natal itu bukan kelahiran seorang Nabi dan Rasul, tapi kelahiran Tuhan Anak. Dengan kata lain, tidak apple to apple (tidak selaras) menjadikan ayat ini sebagai dasar kebolehan ucapan selamat Natal.

4. Bagi pihak yang membolehkan, fatwa pengharaman di masa lalu itu bisa dimaklumi, karena masih dekatnya hidup para ulama tersebut dengan masa perang Salib. Sehingga fatwa pun muncul dan dipengaruhi suasana politik saat itu. Alasan ini juga tidak pas, sebab zaman sekarang pun suasana peperangan (lebih tepatnya penjajahan) itu masih ada dan bahkan lebih meluas. Seperti yang dialami umat Islam di Palestina, Rohingnya, Uighur, Moro, Iraq, Afghanistan, dan perang global bernama Ghazwul Fikri. 

Berikut ini beberapa ulama masa kini yang menyatakan kebolehannya:

1. Syaikh Dr. Nashr Farid Waashil Hafizhahullah, mantan Mufti Mesir

Beliau menjelaskan:

لا مانع شرعًا من تهنئة غير المسلمين في أعيادهم ومناسباتهم، وليس في ذلك خروج عن الدين كما يدَّعي بعض المتشددين غير العارفين بتكامل النصوص الشرعية ومراعاة سياقاتها وأنها كالجملة الواحدة، وقد قَبِلَ النبي صلى الله عليه وآله وسلم الهدية من غير المسلمين، وزار مرضاهم، وعاملهم، واستعان بهم في سلمه وحربه حيث لم يرَ منهم كيدًا، كل ذلك في ضوء تسامح المسلمين مع مخالفيهم في الاعتقاد

Tidaklah terlarang secara syar’iy memberikan selamat kepada non muslim pada hari raya dan acara-acara mereka. Hal itu bukanlah perilaku yang membuat keluar dari Islam sebagaimana yang diklaim sebagian orang-orang ekstrim yang tidak memahami konfrehensifitas dalil-dalil syar’iy  dan tidak memperhatikan konteksnya, dan hal itu sesungguhnya adalah satu kesatuan. Nabi ﷺ  pernah menerima hadiah dari non muslim, menjenguk yang sakit diantara mereka, berinteraksi dengan mereka, serta meminta bantuan mereka dalam keadaan damai dan perang selama tidak Beliau melihat tidak ada tipu daya di dalamnya. Semua ini ada dalam cakupan toleransi kaum muslimin walau menyelisihi mereka dalam aqidah. [1]

2. Syaikh Wahbah Az Zuhailiy Rahimahullah (pakar fiqih dari Siria, alumni Al Azhar)

Beliau ditanya:

ما حكم تهنئة النصارى بأعيادهم ؟

لا مانع من مجاملة النصارى في رأي بعض الفقهاء في مناسباتهم على ألا يكون من العبارات ما يدل على إقرارهم على معتقداتهم.

Apa hukum memberikan selamat kepada kaum kaum Nasrani saat hari raya mereka?

Jawaban: “Menurut sebagian fuqaha, tidak ada larangan berbasa basi kepada Nasrani   pada acara-acara mereka, asalkan jangan sampai terucap perkataan yang membenarkan aqidah mereka.” [2]

3. Syaikh Yusuf  Al Qaradhawiy Hafizhahullah (Alumni Al Azhar, mufti Qatar dan mantan Ketua Ikatan Ulama Intermnasional) 

Beliau berkata:

وتتأكد مشروعية تهنئة القوم بهذه المناسبة إذا كانوا –كما ذكر السائل- يبادرون بتهنئة المسلم بأعياده الإسلامية، فقد أمرنا أن نجازي الحسنة بالحسنة، وأن نرد التحية بأحسن منها، أو بمثلها على الأقل، كما قال تعالى: “وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا”  )النساء:86(

 ولا يحسن بالمسلم أن يكون أقل كرما، وأدنى حظا من حسن الخلق من غيره، والمفروض أن يكون المسلم هو الأوفر – حظا، والأكمل خلقا، كما جاء في الحديث “أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا” وكما قال عليه الصلاة والسلام: “إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلا

Legalitas ucapan selamat kepada mereka dalam berbagai kesempatan, menjadi kuat bilamana mereka –seperti yang dikatakan saudara penanya- memulai memberikan ucapan selamat kepada orang muslim pada harihari besar Islam. Karena kita diperintah membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas ucapan selamat dengan yang lebih baik daripadanya, atau paling tidak sama dengannya.

Firman Allah ﷻ :

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu. (QS. An Nisa: 86)

Tidak baik bagi seorang muslim untuk menjadi pihak yang paling sedikit kemurahan, dan paling minim bagiannya dalam etika yang baik daripada pihak lain. Seharusnya seorang muslim menjadi orang yang paling dominan dalam kebaikan dan paling sempurna akhlaknya, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” [3]

Kemudian, Syaikh Al Qaradhawiy juga mengatakan bolehnya ucapan selamat namun tetap terlarang ikut berkumpul dengan mereka di hari raya mereka:

فلا مانع إذن أن يهنئهم الفرد المسلم، أو المركز الإسلامي بهذه المناسبة، مشافهة أو بالبطاقات التي لا تشتمل على شعار أو عبارات دينية تتعارض مع مبادئ الإسلام مثل (الصليب) فإن الإسلام ينفي فكرة الصليب ذاتها “وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ”  )النساء157 (

والكلمات المعتادة للتهنئة في مثل هذه المناسبات لا تشتمل على أي إقرار لهم على دينهم، أو رضا بذلك، إنما هي كلمات مجاملة تعارفها الناس.ولا مانع من قبول الهدايا منهم، ومكافأتهم عليها، فقد قبل النبي –صلى الله عليه وسلم – هدايا غير المسلمين مثل المقوقس عظيم القبط بمصر وغيره، بشرط ألا تكون هذه الهدايا مما يحرم على المسلم كالخمر ولحم الخنزير.

ولا ننسى أن نذكر هنا أن بعض الفقهاء مثل شيخ الإسلام ابن تيمية وتلميذه العلامة ابن القيم قد شددوا في مسألة أعياد المشركين وأهل الكتاب والمشاركة فيها، ونحن معهم في مقاومة احتفال المسلمين بأعياد المشركين وأهل الكتاب الدينية، كما نرى بعض المسلمين الغافلين يحتفلون بـ(الكريسماس) كما يحتفلون بعيد الفطر، وعيد الأضحى، وربما أكثر، وهذا ما لا يجوز، فنحن لنا أعيادنا، وهم لهم أعيادهم، ولكن لا نرى بأسا من تهنئة القوم بأعيادهم لمن كان بينه وبينهم صلة قرابة أو جوار أو زمالة، أو غير ذلك من العلاقات الاجتماعية،التي تقتضي حسن الصلة، ولطف المعاشرة التي يقرها العرف السليم.

“Jadi kalau begitu, tidak ada halangan bagi individu muslim atau atas nama Pusat Informasi Islam mengucapkan selamat kepada mereka dalam kesempatan ini (hari besar) baik secara lisan atau melalui kartu yang tidak memuat simbol atau ungkapan keagamaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam seperti salib. Karena memang Islam menolak konsep salib itu sendiri:

وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ

Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, (tetapi yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. (QS. An Nisa: 157)

Kata-kata yang biasa digunakan dalam ucapan selamat pada berbagai kesempatan tersebut tidak mengandung unsur pengakuan terhadap agama dan Tuhan mereka atau sikap ridha akan hal itu. Tetapi itu hanya ucapan basa basi yang lazim digunakan orang dalam pergaulan.

Juga tidak ada halangan untuk menerima hadiah dari mereka dan membalas hadiah mereka. Nabi ﷺ dulu menerima berbagai hadiah dari kalangan non muslim seperti dari Mukaukis, pempinan bangsa Koptik di Mesir, dan lain-lain, asalkan hadiah tersebut tidak terdiri dari barang-barang yang diharamkan terhadap orang muslim seperti minuman keras dan daging babi.

 Kami tidak lupa dan kami sebutkan di sini bahwa sebagian ulama fiqih seperti Ibnu Taimiyah bersikap tegas dalam masalah yang berhubungan dengan hari-hari besar kaum musyrikin dan kaum ahli kitab, serta ikut bersama-sama merayakannya. Hal ini terdapat dalam kitabnya yang sangat berharga, Iqtidha’ Shirath Al Mustaqim Mukhalafatu Ahli Al Jahim.

Saya sependapat dengannya dalam mencegah ikut berkumpulnya umat Islam merayakan hari-hari besar kaum musyrikin dan ahli kitab –sebagaimana kita saksikan sekarang kaum muslimin ikut terlibat dalam perayaan Natal sebagaimana mereka merayakan hari Idul Fithri dan Idul Adha-, atau malah lebih meriah dari itu, dan inilah yang tidak dibenarkan. Bagi kita hari-hari raya kita, dan bagi mereka adalah hati-hari raya mereka. Tapi saya tidak melihat ada masalah untuk mengucapkan selamat mereka sehubungan dengan tibanya hari-hari raya bagi orang yang memiliki antara dirinya dengan mereka hubungan kekerabatan, hubungan bertetangga, persahabatan, dan sebagainya di antara hubungan-hubungan sosial yang menuntut kasih sayang dan persaudaraan yang diakui oleh adat istiadat yang sehat. [4]

Dan masih banyak lagi, seperti Syaikh Rasyid Ridha (Ahli Hadits dan Tafsir, Mesir), Syaikh Ali Jum’ah (mantan mufti Mesir), Syaikh Mushthafa Az Zarqa’ (Siria), Syaikh Ahmad Shurbasyi (Al Azhar-Mesir) dan lainnya. Jika kita lihat, rata-rata yang membolehkan adalah ulama Mesir atau alumni Al Azhar Mesir. Bahkan Syaikh Mushtahfa Az Zarqa yang asli Siria, pernah pula mengenyam pendidikan di Mesir, di Universitas Fuad I (Saat ini Kairo University).

Hal ini mengingatkan kita pada ucapan Imam Ibnu Hajar Al Haitamiy Rahimahullah yang telah kami kutip sebelumnya:

“Aku melihat sebagian imam kita muta’akhirin (generasi belakangan)   menyatakan pendapat yang sama denganku, lalu dia berkata: Termasuk dari bid’ah terburuk adalah persetujuan kaum muslimin kepada Nasrani di hari raya mereka dengan melakukan tasyabbuh (menyerupai), yaitu dengan makanan,  memberi hadiah,  dan menerima hadiah pada hari itu. Kebanyakan orang yang melakukan itu adalah Mishriyun  (orang-orang Mesir).”

Lalu, bagaimana sikap kita? 

Setelah kita lihat perbedaan pendapat dalam masalah ini dan hujjah mereka masing-masing. Maka, silahkan bagi yang mengambil salah satu pendapat dari dua pendapat ini. Walau kami lebih mengikuti pendapat yang pertama untuk lebih berhati-hati. Hendaknya umat Islam tetap bersaudara jangan sampai disibukkan oleh perdebatan yang selalu muncul tiap tahun ini. Mereka yang Natal, kita yang ribut. Saat menjelang Idul Adha kita pun ribut lagi, memasuki Ramadhan kita pun ribut lagi, apakah memang umat Islam hobi ribut?

Kalau boleh kami memberikan saran,      bagi mereka yang tidak ada keperluan apa pun untuk mengucapkan selamat, baik karena tidak ada perlunya, tidak berhubungan dengan non muslim baik di kantor, keluarga, perkawanan, maka tidak perlu baginya mengucapkan selamat.  Sedangkan bagi mereka yang sehari-hari berhubungan dengan non muslim, baik sebagai kerabat, keluarga, kawan, teman kantor, atasan, dia bisa berbuat baik kapan pun sehingga itu tetap terpatri dalam jiwa non muslim,  dan tidaklah itu ternoda hanya karena tidak mengucapkan selamat hari raya. Jikalau pun terpaksa, maka ucapkan selamat berbahagia, selamat libur, adalah lebih aman secara sosial dan aqidah, dan tentunya  lebih minim perdebatan dibanding selamat hari raya mereka.

Kesimpulan:

A. Ulama terdahulu dari empat madzhab sepakat keharaman mengucapkan selamat hari raya orang kafir.

B. Kesepakatan ini “pecah” di zaman ini, cukup banyak ulama yang membolehkan, khususnya kalangan Mesir, atau alumni Al Azhar. Sementara ulama Arab Saudi tetap mengharamkan. Demikian. Wallahu A’lam.

Footnote:

[1] http://www.dar-alifta.org/ar/ViewFatwa.aspx?sec=fatwa&ID=13259

[2] http://www.shariaa.net/forum/showthread.php?t=22917

[3] Syaikh Yusuf Al Qaradhawiy, Fatwa-Fatwa Kontemporer 3, Hal. 979-980

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

Bagikan:

Tags

Leave a Comment