Hukum Transplantasi Rambut Bagi Laki-laki

No comments

Fatwapedia.com – Berikut ini adalah fatwa tentang hukum Transplantasi atau menanam rambut bagi laki-laki dan perempuan, serta hukum menggunakan rambut palsu.

السؤال : ما حكم زراعة الشعر ولبس الباروكة للرجال؟ وما هي الأحكام المترتبة على ذلك كالغسل وغيره؟

Pertanyaan: Apa hukum laki-laki menanam rambut dan memakai wig atau rambut palsu, apa konsekuensi hukum-hukum yang terjadi seperti saat mandi janabah dan lain sebagainya?
الجواب : الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله
زراعة الشعر هي عبارة عن عملية تجميلية يتمّ فيها زرع الشعر في الجلد، وهي ليست من تغيير خلق الله تعالى، بل من المعالجة التي يُقصد بها ردّ الأمر إلى طبيعته التي خلقه الله تعالى عليها.
Jawaban: Menanam rambut itu sama dengan operasi plastik yang dilakukan dengan cara menanam rambut pada kulit, hal itu tidak dianggap sebagai tindakan merubah ciptaan Allah. Bahkan termasuk solusi yang bertujuan mengembalikan kodratnya yang telah Allah ciptakan.
وهذه القضية من المسائل المعاصرة التي ظهرت بسبب التطور العلمي والمعرفي، وقد قرّر الفقهاء أنّ الأصل في الأشياء الإباحة، وذلك عند عدم وجود نصّ أو قاعدة كلية تقتضي التحريم، وبشرط أن لا يكون في الأمر ضرر أو إضرار.
Permasalahan ini termasuk persoalan modern yang lahir dari berkembangnya ilmu dan pengetahuan manusia. Para fuqaha telah menetapkan bahwa hukum asal segala sesuatu adalah boleh jika tidak ada teks atau kaidah umum yang mengharamkan dengan syarat tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
فإذا كانت عملية زراعة الشعر بهذه الشروط فلا إشكال فيها شرعاً، جاء في قرار مجمع الفقه الإسلامي الدولي رقم (173) لعام (2007م) بشأن عمليات التجميل: “يجوز شرعًا إجراء الجراحة التجميلية الضرورية والحاجية التي يُقصد منها… إصلاح العيوب الطارئة (المكتسبة) من آثار الحروق والحوادث والأمراض وغيرها، مثل: زراعة الجلد وترقيعه… وزراعة الشعر حالة سقوطه خاصة للمرأة”.
Maka jika terpenuhi syarat-syarat diatas menanam rambut bagi laki-laki tidak ada masalah secara syariat. Telah terbit keputusan dari himpunan ahli fikih islam tentang ketentuan berhias: boleh secara syariat melakukan operasi kecantikan yang mendesak dan sangat dibutuhkan seperti memperbaiki cacat yang muncul karena kebakaran, kecelakaan, penyakit dsb. Seperti menanam kulit dan menambalnya, dan menanam rambut yang rontok khususnya bagi perempuan.
وعليه؛ فإن زراعة الشعر لشخص ما من شعره نفسه جائزة، جاء في قرار مجمع الفقه الإسلامي رقم (26) لعام (1988م): “يجوز نقل العضو من مكان من جسم الإنسان إلى مكان آخر من جسمه، مع مراعاة التأكد من أن النفع المتوقع من هذه العملية أرجح من الضرر المترتب عليها، وبشرط أن يكون ذلك لإيجاد عضو مفقود أو لإعادة شكله أو وظيفته المعهودة له، أو لإصلاح عيب أو إزالة دمامة تسبب للشخص أذىً نفسياً أو عضوياً”.
Kepada penanya, menanam rambut siapapun orangnya boleh asalkan rambut sendiri, telah ada keputusan himpunan Ulama Fiqh islami, Bolehnya memindah bagian anggota tubuh dari bagian yang satu dipindah ke bagian lain dari tubuhnya. Dengan dipastikan bahwa manfaat yang dihasilkan lebih kuat dari bahayanya. Serta dengan syarat untuk mengembalikan bagian yang hilang atau mengembalikan bentuk asalnya dan fungsinya. Atau boleh juga dengan alasan memperbaiki cacat atau rupa yang menakutkan yang mengakibatkan derita secara psikis dan fisik.
ولا حرج في لبس الباروكة للمرأة والرجل، بشرط أن لا تكون من شعر آدمي أو من شعر نجس، وبشرط أن لا يكون ذلك بقصد الغشّ والتدليس والتغرير بالناس، كإظهار الكبير في العمر صغيراً.
Tidak berdosa juga menggunakan rambut palsu baik laki-laki maupun perempuan dengan syarat bukan rambut asli atau rambut yang najis, serta bukan tujuan untuk menipu, menyembunyikan dan mengelabuhi Manusia seperti agar terlihat muda padahal sudah tua.
وأمّا بالنسبة لأحكام الوضوء والغسل؛ فإذا كانت عملية زراعة الشعر تغطي شيئاً من الجلد فهذا يضرّ بالغسل؛ لأنّ الواجب فيه تعميم الجسد بالماء، وأمّا إن كانت الزارعة بطريقة تغرس فيها بصيلات الشعر في مسام الجلد ولا تغطي شيئاً منه، فهذا لا يؤثر على شيء من أحكام الوضوء والغسل.
Adapun terkait dengan hukum wudhu dan mandi, apabila penanaman rambut sampai menutupi sebagian dari permukaan kulit ini berbahaya saat mandi, karena wajib meratakan air ke seluruh tubuh, namun jika proses menanam dilakukan dengan cara menghujamkan ke dalam sel kulit (follice) maka sama sekali tidak menutupi permukaan kulit, dengan demikian tidak berpengaruh sedikitpun terhadap wudhu dan mandi.
وأمّا المسح على الباروكة فلا يجزئ في الوضوء؛ لأنها لا تُعدّ جزءاً من الرأس، قياساً على العمامة التي نص الفقهاء على عدم إجزاء المسح عليها فقط دون الرأس، وقد قال الإمام النووي رحمه الله في [روضة الطالبين 1/ 60]: “أما من لا شعر له أو له شعر لا ينقلب لقصره أو طوله فيقتصر على الذهاب، فلو رد لم يحسب ثانية، ولو لم يرد نزع ما على رأسه من عمامة أو غيرها مسح ما يجب من الرأس، ويسن تتميم المسح على العمامة، والأفضل أن لا يقتصر على أقل من الناصية، ولا يكفي الاقتصار على العمامة قطعاً”. والله تعالى أعلم
Adapun hanya mengusap rambut palsu saat wudhu tidak cukup, karena itu tidak termasuk bagian asli dari kepala, seperti halnya sorban yang tidak cukup hanya diusap tanpa membukanya. Imam Nawawi berkata: Adapun jika tidak punya rambut atau ada rambut tidak membalikan karena pendek atau terlalu panjang maka cukup diusapkan ke belakang, jikapun mengembalikan ke depan tidak dihitung, dan jika tidak membuka penutup kepala seperti sorban dan lainnya maka mengusap yang wajib diusap dari bagian kepala, dan diaunnahkan menyempurnakan usapan sorban dan yang afdal minimal mengusap ubun-ubun. Tidak cukup mengusap diatas sorban saja. Wallahu a’lam.
Diterjemahkan oleh: Akmar Kholid S

Bagikan:

Tags

Leave a Comment