Dalil Larangan Onani bagi Laki-laki

No comments


Fatwapedia.com – Apa hukum onani menurut islam? Adakah larangan onani dari Al-Qur’an maupun hadits? Adakah tinjaun dokter terkait dampak dari onani? Berikut adalah fatwa tentang hukum onani.

السؤال :
ما حكم (العادة السرية)؟

Pertanyaan: apa hukum onani?

الجواب :
الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله
العادة السرية – وهي ما يُعرف عند الفقهاء بـ(الاستمناء) – أي: طلب خروج المني، سواء كان ذلك باليد، أو بمتابعة نظر لمحرَّم، أو سماع ما يؤثِّر لتحريك الشهوة، أو بمجرد التفكير بقصد خروج المني.

Jawaban: Onani adalah apa yang dikenal oleh para ahli fikih dengan istilah istimna’, yaitu upaya mengeluarkan air mani, baik itu dengan tangan, dengan melihat yang haram, dengan mendengarkan yang bisa mengundang syahwat atau sekedar mengkhayal dengan maksud mengeluarkan air mani.

والاستمناء حرام بجميع أشكاله، وبأي طريقة كان، كما هو مذهب جمهور أهل العلم. قال الإمام الشيرازي رحمه الله: “ويحرم الاستمناء لقوله عز وجل: (وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُون) المؤمنون/ 5-7. ولأنها مباشرة تُفضي إلى قطع النسل؛ فحرم كاللواط” انتهى. انظر: “المهذب” المطبوع مع شرحه “المجموع” (18/ 267).

Dan istimna’ (onani) haram hukumnya dengan berbagai bentuknya serta dengan berbagai caranya, sebagaimana Imam Asyairazi berkata: ini adalah pendapat mayoritas ulama, dalil pengharamannya adalah firman Allah yang artinya:

“dan orang yang memelihara kemaluannya, Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki;maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” Karena istimna’ adalah penyebab terputusnya keturunan, maka haram seperti liwath.

ويمكن الاستدلال على تحريم الاستمناء بأدلة ثلاثة:
الدليل الأول: قوله تعالى: (وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُون).

Dan mungkin dapat disimpulkan atas keharaman istimna’ dengan tiga dalil berikut ini:

Dalil pertama: Firman Allah yang artinya: “dan orang yang memelihara kemaluannya, Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki;maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”

فقد حصر الله تعالى الاستمتاع بالاستمتاع بالزوجة والأَمَة؛ فكل استمتاع آخر فهو استمتاع محرم. وقد سمى الله تعالى من ابتغى المتعة بغير هذين الطريقين معتدياً، والاعتداء لا يكون إلا حراماً.

Allah membatasi bersenang-senang yang dibolehkan adalah bersenang senang dengan istri dan budak. Maka setiap bersenang-senang dengan selain itu adalah haram, Allah telah menyebutkan barang siapa mencari kesenangan selain dengan dua hal diatas adalah melampaui batas, dan melampaui batas tidaklah terjadi kecuali itu haram.

يقول الحافظ ابن كثير رحمه الله: “وقد استدل الإمام الشافعي رحمه الله ومن وافقه على تحريم الاستمناء باليد بهذه الآية الكريمة قال: فهذا الصنيع – الذي هو الاستمناء – خارج عن هذين القسمين، وقد قال تعالى: (فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ)” انتهى. “تفسير القرآن العظيم” (5/ 463).

Berkata ibnu Katsir : Imam Syafi’i dan orang yang bersepakat dengannya telah mengambil kesimpulan hukum dengan ayat ini akan haramnya istimna menggunakan tangan, beliau berkata: tindakan ini yang disebut istimna’ adalah diluar dari dua cara yang dihalalkan Allah berfirman:

الدليل الثاني: قوله صلى الله عليه وسلم في الحديث الذي رواه الشيخان عن سيدنا عثمان بن عفان رضي الله عنه: (يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ؛ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ).

Dalil yang kedua Sabda Nabi dalam hadits riwayat Bukhari Muslim dari sayyidina Utsman bin Affan: Wahai para pemuda barang siapa diantara kalian telah mampu maka menikahlah, dan barang siapa yang tidak sanggup maka berpuasalah karena itu baginya adalah pelindung.

وموضع الاستدلال أنه صلى الله عليه وسلم حثَّ من استطاع الباءة – وهي القدرة على الوطء – على الزواج، فإن لم يستطع فعليه بالصوم؛ فإنه له وقاية من الفتن، ومن الوقوع في الحرام

Letak pendalilan dari hadits diatas adalah bahwasanya Nabi mendorong kepada siapa saja yang telah sanggup menikah yaitu mampu melakukan hubungan seksual agar menikah, jika tidak sanggup maka Berpuasa karena puasa adalah pelindung dari fitnah dan terjatuh pada perbuatan haram.

Baca juga: Begini Solusi agar berhenti dari kebiasaan onani

. ولو كان الاستمناء جائزاً لبيَّنه النبي صلى الله عليه وسلم، ولَمَا وجّه الشباب إلى الصوم مع إمكانية الاستمناء.

Seandainya istimna’ itu boleh niscaya Nabi telah menjelaskan akan bolehnya, Mengapa saat menasehati para pemuda Rasulullah menganjurkan agar berpuasa bukan melakukan istimna’

الدليل الثالث: قد ثبت أن للعادة السرية أضراراً صحية تلحق بمن يُمارسها، وأكد أهل الاختصاص من الأطباء أنها تؤثر على كفاءة الرجل في حق زوجته في المستقبل، كما أنها قد تؤدي إلى العقم وإلى ضعف التركيز، وغير ذلك من الأضرار الصحية التي لا تُحمد عقباها.

Dalil ketiga, telah terbukti secara klinis bahwa onani menimbulkan masalah kesehatan bagi orang yang melakukannya, para dokter spesialis mengatakan bahwa istimna’ akan berdampak pada kemampuan suami memberikan hak istri di masa yang akan datang seperti akan menimbulkan kemandulan dan lemah konsentrasi serta berbagai dampak negatif yang tidak terpuji

فالواجب على كل من ابتلي بالعادة السرية التوبة بالإقلاع عنها فوراً، والابتعاد عن كل ما يثير الشهوة من نظر وفكر مُحرَّمَين، والابتعاد عن الأطعمة التي تُثير الشهوة، والإكثار من الصوم؛ فإنه له وجاء؛ أي: وقاية من الحرام. والله تعالى أعلم.

Maka wajib bagi siapapun yang telah diuji dengan prilaku ini agar bertaubat dengan cara segera berlepas diri darinya dan meninggalkan segala hal yang mengundang syahwat dari melihat dan membayangkan yang haram. Serta menjauhkan diri dari makanan-makanan yang menimbulkan syahwat, serta berpuasa karena itu akan melindungi dari yang haram. Wallahu a’lam.

Diterjemahkan oleh: Akmar Kholid S

Sumber:
الموضوع : حكم “العادة السرية”
رقم الفتوى : 246
التاريخ : 09-04-2009
التصنيف : منوعات
نوع الفتوى : بحثية

Bagikan:

Tags

Leave a Comment