Bolehkah Menerjemah Khutbah Jum’at dengan Bahasa Isyarat untuk Orang Tuli?

No comments

Fatwapedia.com – Berikut ini adalah fatwa tentang hukum Menterjemah isi khutbah Jum’at dengan bahasa isyarat untuk orang yang tuli alias tidak bisa mendengar.

السؤال: أعمل مترجماً للصم، وأترجم خطبة الجمعة في مسجد الملك المؤسس، وأقوم ببثها عبر وسائل التواصل الاجتماعي، فيقوم الأخوة الصم في مساجد المملكة بمشاهدة الخطبة على أجهزتهم الخاصة؛ لأنهم لا يسمعون الإمام، فما حكم ذلك؟

Pertanyaan: Aku Bekerja sebagai penerjemah untuk orang yang tuli, dan aku menterjemah khutbah Jum’at di Masjid Kerajaan Yordania, dan aku menyebarkannya lewat media sosial, dan saudara-saudara yang tuli shalat di masjid kerajaan dan menyaksikan khutbah dengan perangkat elektronik khusus, karena mereka tidak dapat mendengarkan khutbah imam (tuli) Apa hukumnya?

الجواب: الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله صلاة الجمعة فرض عين على كل مسلم انطبقت عليه شروط وجوب الجمعة، وذلك لقول الله عز وجل: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [الجمعة: 9].

Jawaban: Segala puji bagi Allah shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Shalat Jum’at hukumnya fardhu ain wajib bagi setiap muslim laki-laki yang telah memenuhi syarat-syarat shalat Jum’at. Hal itu berdasarkan firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُون

“Wahai orang-orang mukmin, apabila kalian dipanggil untuk shalat jumat, maka bersegerlah mendatangi tempat shalat dan tinggalkanlah perdagangan, demikian itu lebih baik bagi kalian, jika kalian benar-benar menyadari pahala surga.”

والواجب على الأصم حضور الجمعة، سواء فهم الخطبة أم لا، وهو معذور في عدم سماع الخطبة، ويسنّ له الانشغال في هذه الحالة بالذكر والدعاء، وهو أولى من السكوت، كما جاء في [بشرى الكريم ص402] من كتب الشافعية: “والإنصات في الخطبة لمن سمعها ولو زائداً على الأربعين؛ لآية: {وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآن} [الأعراف:204]، وإنما يحصل بترك الكلام والذكر للسامع مع الإصغاء لما لا يجب سماعه، بخلاف الأركان لأربعين، فيجب سماعها… وبترك الكلام دون الذكر لغيره أي: لغير السامع لنحو بعد، بل يشتغل بقراءة أو ذكر سراً، بحيث لا يشوش على أحد، بخلاف الكلام، فمكروه وإن لم يسمع”.

Dan wajib bagi orang tuli mendatangi Jum’at, baik ia faham khutbah maupun tidak, ia dimaafkan meskipun tidak mendengar khutbah, pada kondisi ini mereka di sunnahkan untuk memperbanyak dzikir dan doa, demikian jauh lebih baik daripada diam. Seperti keterangan yang terdapat dalam kitab Busyra karim halaman 402, salah satu kitab ulama Syafi’iyah, diam saat khutbah jumat bagi orang yang mendengar lebih dari 40 orang, berdasarkan ayat:

{وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآن}

Hal ini bisa tercapai Dengan cara tidak berbicara maupun membaca dzikir bagi orang yang mendengar serta berpaling dari hal-hal yang tidak penting untuk didengar, berbeda dengan rukun yang 40, maka wajib mendengarkannya dengan meninggalkan pembicaraan bukan dzikir bagi yang mendengarnya, maksudnya bagi orang yang tidak bisa mendengar karena sebab jaraknya jauh dari khatib misalnya, maka ia menyibukan diri dengan membaca dan dzikir secara lirih, dengan tanpa mengganggu yang lain, berbeda dengan berbicara, meskipun tidak dapat mendengar maka makruh hukumnya.

وانشغال الأصم أثناء حضور صلاة الجمعة بمتابعة الخطبة المترجمة بلغة الإشارة لا حرج فيه، لأنه ينشغل بتعلم الأحكام الشرعية والمواعظ والدعاء من خلال الخطبة المترجمة، بل يكون مواكباً للموضوع الذي يتناوله خطيب المسجد الذي يتواجد فيه.

Dan kesibukan orang tuli saat mndengarkan khutbah dengan mengikuti khutbah yang diterjemahkan dengan bahasa isyarat tidak mengapa, karena ini termasuk kesibukan terhadap belajar hukum-hukum syariat, nasehat dan doa disela-sela khutbah yang diterjemahkan. Dan bahkan bisa mengikuti tema yang dibawakan khatib yang terdapat di dalamnya.

وعليه؛ فالقيام بترجمة خطبة الجمعة بلغة الإشارة من باب التعاون على الخير، وفيه فائدة عظيمة، حيث يمكّن الصمّ من الاطلاع على مضمون الخطبة وما تحويه من مواعظ وأحكام، مما يساعدهم على فهمها والتفقه في الدين ونشر العلم، ولهم أجر حضور الجمعة كما أخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم: (مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ، وَغَدَا وَابْتَكَرَ، وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا) رواه النسائي. والله تعالى أعلم

Maka kepada penanya, Usaha menterjemahkan isi khutbah dengan bahasa isyarat bagian dari tolong menolong dalam kebaikan, dan tentu terdapat manfaat yang besar, dimana orang yang tuli bisa belajar dari isi khutbah dan nasehat-nasehat yang terkandung di dalamnya. Dan apa saja yang bisa membantu mereka untuk mendalami agama dan menyebarkan ilmu. Dan mereka memperoleh pahala Jum’at sebagaimana sabda Nabi:

مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ، وَغَدَا وَابْتَكَرَ، وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا

“Barangsiapa yang membuat istrinya mandi junub dan ia pun mandi, lalu ia berangkat ke masjid dan bersegera, kemudian ia mendekat kepada imam dan diam mendengarkan khutbah serta tidak berbuat sia-sia.” (HR An-Nasai). Wallahu a’lam.

Diterjemahkan oleh: Akmar Kholid S
Sumber: www.aliftaa.jo

Bagikan:

Tags

Leave a Comment