Hukum Mendoakan Orang Bersin Saat Shalat

No comments

Fatwapedia.com – Berikut ini adalah fatwa tentang hukum membaca tahmid saat bersin bagi orang yang shalat dan orang lain ikut mendoakannya.

السؤال: ما حكم من عطس أثناء الصلاة هل يحمد الله تعالى، وهل يشمت غيره؟

Pertanyaan: Apa hukum bersin saat shalat? Dan haruskah membaca hamdalah dan orang lain mendoakan?

الجواب: الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله يندب للمصلي إن عطس أثناء الصلاة أن يحمد الله، ولكن إن حمد الله عامداً أثناء قراءة الفاتحة انقطعت الموالاة، وعليه استئناف قراءتها من جديد، والأفضل له أن يؤخر ذلك إلى أن يفرغ من قراءة الفاتحة.

Jawaban: Segala puji bagi Allah shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Disunnahkan bagi orang yang shalat membaca hamdalah saat bersin. Namun jika membaca hamdalah dengan sengaja saat membaca alfatihah maka putus hukum (muwalah)  terus-menerus (yang menjadi syarat membaca alfatihah) maka ia wajib mengulangi Al-Fatihah dari awal. Maka yang lebih utama adalah mengakhirkan bacaan hamdalah sesudah membaca Al-fatihah.

جاء في [المجموع للنووي رحمه الله 3/ 359]: “فلو أجاب المؤذن في أثناء الفاتحة أو عطس فقال: الحمد لله، أو فتح القراءة على غير إمامه، أو سبح لمن استأذن عليه، أو نحوه انقطعت الموالاة بلا خلاف، صرح به البغوي والأصحاب” انتهى. 

Dijelaskan dalam majmu’ fatawa Imam Nawawi: apabila menjawab bacaan adzan di tengah-tengah Alfatihah atau bersin, dengan membaca alhamdulillah, atau membuka bacaan selain imam, atau mengucapkan tasbih kepada orang yang minta izin atau perbuatan semisalnya maka terputuslah keharusan terus menerus saat membaca alfatihah tanpa khilaf (perbedaan pendapat ulama)

وفي [مغني المحتاج للشربيني رحمه الله 1/ 356]: “يجب ترتيبها وموالاتها بأن يصل الكلمات بعضها ببعض ولا يفصل إلا بقدر التنفس للاتباع مع خبر: (صلوا كما رأيتموني أصلي)… فإن تخلل ذكر أجنبي لا يتعلق بالصلاة قطع الموالاة وإن قل كالتحميد عند العطاس، وإجابة المؤذن والتسبيح للداخل؛ لأن الاشتغال به يوهم الإعراض عن القراءة فليستأنفها، هذا إن تعمد، فإن كان سهواً فالصحيح المنصوص أنه لا يقطع”.

Disebutkan dalam kitab mughni muhtaj: wajib hukumnya membaca alfatihah dengan tartib (urut) dan muwalaah (tanpa putus) sehingga tersambung antara satu kalimat dengan lainnya tanpa jeda kecuali sebatas bernafas. Karena mengikuti hadits yang berbunyi: “Shalatlah seperti kalian melihat aku shalat” jika diselingi bacaan selain bacaan Al-Fatihah maka terputuslah status muwalah itu meskipun hanya sedikit seperti bacaan tahmid saat bersin, menjawab muadzin, membaca tasbih untuk tamu, karena menyibukan dengan bacaan tersebut memungkinkan untuk berpaling dari bacaan dan harus mengulangi dari awal, ini jika dilakukan dengan sengaja, adapun sebab lupa maka pendapat yang shahih tidak memutus bacaan

ولكن لا يجوز للمصلي تشميت غيره في أثناء الصلاة إن كان بلفظ الخطاب له. 

Akan tetapi tidak boleh bagi orang yang shalat mendoakan orang lain yang bersin dengan menggunakan bentuk kalimat khitab (يرحمك(

جاء في [المجموع 4/ 84]: “يباح من الدعاء ما ليس خطاباً لمخلوق، فأما ما هو خطاب مخلوق غير رسول الله صلى الله عليه وسلم فيجب اجتنابه، فلو قال لإنسان: غفر الله لك أو رضي الله عنك أو عافاك الله ونحو هذا، بطلت صلاته؛ لحديث معاوية بن الحكم.

Disebutkan dalam Al-Majmu’ dibolehkan membaca doa yang tidak berupa khitab (pembicaraan dua arah) terhadap makhluk, karena khitaab kepada makhluk selain Rasul harus ditinggalkan saat shalat, seperti ucapan: semoga Allah mengampunimu atau semoga Allah meridhoimu atau semoga Allah menyelamatkanmu atau ucapan serupa, batal shalatnya berdasarkan hadits muawiyah bin Hakim.

ولو سلم على إنسان أو سلم عليه إنسان فرد عليه السلام بلفظ الخطاب، فقال: وعليك السلام، أو قال لعاطس: رحمك الله أو يرحمك الله، بطلت صلاته… فلو رد السلام وشمت العاطس بغير لفظ خطاب، فقال: وعليه السلام أو يرحمه الله، لم تبطل صلاته باتفاق الأصحاب؛ لأنه دعاء محض”. والله تعالى أعلم

Apabila mengucapkan salam kepada orang lain atau menjawab salam orang lain dengan ungkapan (percakapan dua arah) misalnya ucapan: wa’alaika salam, atau doa untuk orang bersin: yarhamukallah, batal shalatnya. Namun apabila menjawab salam atau mendoakan orang bersin dengan ungakapan tanpa unsur percakapan, seperti ucapan: wa ‘alaihis salam atau yarhamuhullah tidak batal shalatnya menurut kesepakatan para sahabat karena itu termasuk doa saja. Wallahu a’lam.

Diterjemahkan oleh: Akmar Kholid S

Sumber: www.aliftaa.jo

Bagikan:

Tags

Leave a Comment