5 Sebab Siksa Kubur yang Paling Berbahaya

No comments
5 Sebab Siksa Kubur dan Macam-macamnya


Fatwapedia.com – Diantara perkara ghaib yang wajib kita imani kebenarannya adalah siksa kubur. Ada beberapa sebab mengapa seseorang mendapatkan siksa kubur. Dalam hal ini Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan,
“Secara umum, orang-orang diazab karena kejahilan mereka tentang Allah, tidak melaksanakan perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya. Jadi, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengazab roh yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Demikian juga, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengazab satu badan pun yang roh tersebut memiliki ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah) selama-lamanya.
Sesungguhnya, azab kubur dan azab akhirat adalah akibat kemarahan Allah subhanahu wa ta’ala dan kemurkaan-Nya terhadap hamba-Nya. Maka dari itu, barang siapa menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala marah dan murka di dunia ini, lalu dia tidak bertobat dan mati dalam keadaan demikian, niscaya dia akan mendapatkan azab di alam barzakh sesuai dengan kemarahan dan kemurkaan-Nya.” (ar-Ruh hlm. 115)

5 Sebab Siksa Kubur

Di antara sebab-sebab azab kubur secara terperinci adalah sebagai berikut.
1. Kufur dan syirik
Hal ini seperti azab yang menimpa Fir’aun dan bala tentaranya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّ‍َٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ وَحَاقَ بِ‍َٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ٤٥ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ٤٦
“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’.” (Ghafir: 45—46)
2. Sifat Nifaq
Nifaq atau Kemunafikan menjadi salah satu sebab datangnya azab kubur
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمِمَّنۡ حَوۡلَكُم مِّنَ ٱلۡأَعۡرَابِ مُنَٰفِقُونَۖ وَمِنۡ أَهۡلِ ٱلۡمَدِينَةِ مَرَدُواْ عَلَى ٱلنِّفَاقِ لَا تَعۡلَمُهُمۡۖ نَحۡنُ نَعۡلَمُهُمۡۚ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيۡنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ
“Di antara orang-orang Arab badui yang di sekelilingmu itu ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (at-Taubah: 101)
3. Air kencing dan Adu domba.
Sebab yang ketiga adalah seseorang tidak menjaga air kencingnya sehingga mengenai tubuh atau pakaiannya. Serta perbuatan mengadu domba orang lain.
Ibnu Abbas radhiallahu anhuma mengatakan,
مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا
Nabi shallallahu alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.”
Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah. Kemudian, beliau membelahnya menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada tiap-tiap kuburan. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?”
Beliau menjawab, “Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.” (Muttafaqun ‘alaih)
4. Ghibah (Menggunjing)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ
“Tatkala Rabbku memi’rajkan aku (menaikkan ke langit), aku melewati kaum yang memiliki kuku dari tembaga. Mereka sedang mencabik-cabik wajah dan dada mereka dengan kukunya. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka ini, wahai Jibril?’
Dia menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging (suka mengghibah) dan menjatuhkan kehormatan manusia’.” (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah no. 533. Hadits ini juga dicantumkan dalam ash-Shahihul Musnad karya Syaikh Muqbil rahimahullah)
Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menyatakan,
“Sebagian ulama menyebutkan rahasia dikhususkannya (penyebutan) air kencing, namimah (adu domba), dan ghibah (sebagai penyebab azab kubur). Rahasianya adalah bahwa alam kubur itu adalah tahap awal alam akhirat. Di dalamnya terdapat beberapa contoh yang akan terjadi pada hari kiamat, seperti siksaan ataupun balasan yang baik.
Adapun perbuatan maksiat yang menjadi penyebab siksa ada dua macam: terkait dengan hak Allah dan terkait dengan hak hamba. Hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala yang pertama kali akan diselesaikan pada hari kiamat adalah shalat, sedangkan yang terkait dengan hak-hak hamba adalah darah.
Adapun di alam barzakh, yang akan diputuskan adalah pintu-pintu dari kedua hak ini dan perantaranya. Maka dari itu, syarat sahnya shalat adalah bersuci dari hadats dan najis. Adapun pintu tumpahnya darah adalah namimah (adu domba) dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Keduanya adalah dua jenis tindakan menyakiti yang paling ringan. Karena itu, di alam barzakh diawali dengan evaluasi dan siksaan karena keduanya.” (Ahwalul Qubur hlm. 89)
5. Niyahah (meratapi kematian)
Sebab kelima mendapat azab kubur adalah meratapi kematian 
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya, mayit itu akan diazab karena ratapan keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dalam riwayat lain dalam Shahih Muslim,
الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ
“Mayit itu akan diazab di kuburnya dengan sebab ratapan atasnya.”
Jumhur ulama berpendapat, hadits ini dipahami bahwa mayit yang ditimpa azab karena ratapan keluarganya adalah orang yang berwasiat supaya diratapi, atau dia tidak berwasiat untuk tidak diratapi padahal dia tahu bahwa kebiasaan mereka adalah meratapi orang mati. Oleh karena itu, Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Apabila dia telah melarang mereka (keluarganya) meratapi ketika dia hidup, tetapi mereka tetap melakukannya setelah kematiannya, dia tidak akan ditimpa azab sedikit pun.” (‘Umdatul Qari, 4/78)
Azab di sini menurut mereka maknanya adalah hukuman. (Ahkamul Jana’iz, hlm. 41)
Selain sebab-sebab di atas, ada beberapa hal lain yang telah disebutkan dalam pembahasan Macam-Macam Azab Kubur.

Apakah Azab Kubur Terjadi Terus-Menerus?

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,
“Jawaban terhadap pertanyaan ini,
1. Azab kubur bagi orang-orang kafir terjadi terus-menerus dan tidak mungkin terputus.
Sebab, mereka memang berhak menerimanya. Seandainya azab tersebut terputus atau berhenti, maka kesempatan ini menjadi waktu istirahat bagi mereka. Padahal mereka bukanlah orang-orang yang berhak mendapatkan hal itu. Maka dari itu, mereka adalah golongan yang terus-menerus mendapatkan azab kubur sampai datangnya hari kiamat, walaupun panjang masanya.
2. Orang-orang beriman yang berbuat maksiat, Allah subhanahu wa ta’ala mengazab mereka dengan sebab dosa-dosanya.
Di antara mereka ada yang diazab terus-menerus, ada pula yang tidak. Ada yang panjang masanya, ada pula yang tidak, tergantung pada dosa-dosanya dan ampunan Allah azza wa jalla.” (Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, 2/123)

Macam-macam Azab Kubur

Berikut ini beberapa macam azab kubur yang disebutkan oleh dalil dari ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
1. Diperlihatkan neraka jahannam
ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّاۚ
“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang.” (Ghafir: 46)
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدَهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya, apabila salah seorang di antara kalian mati, akan ditampakkan kepadanya calon tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Apabila dia termasuk calon penghuni surga, ditampakkan kepadanya surga. Apabila dia termasuk calon penghuni neraka, ditampakkan kepadanya neraka. Dikatakan kepadanya, ‘Ini calon tempat tinggalmu hingga Allah subhanahu wa ta’ala membangkitkanmu pada hari kiamat’.” (Muttafaqun ‘alaih)
2. Dipukul dengan palu dari besi
Dari Anas radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
فَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ فَيَسْمَعُهَا مَنْ عَلَيْهَا غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ
Adapun orang kafir atau munafik, kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya, “Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam)?”
Dia mengatakan, “Aku tidak tahu. Aku mengatakan apa yang dikatakan oleh orang-orang.”
Kedua malaikat itu mengatakan, “Engkau tidak tahu?! Engkau tidak membaca?!”
Kemudian dia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan sangat keras yang didengar oleh seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: jin dan manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)
3. Disempitkan kuburnya, sampai tulang-tulang rusuknya saling bersilangan, dan didatangi teman yang buruk wajahnya dan busuk baunya.
Dalam hadits al-Bara bin Azib radhiallahu anhu yang panjang, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menceritakan tentang orang kafir setelah mati,
فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا مِنَ النَّارِ؛ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسُمُومِهَا وَيَضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوؤُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ، فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ. فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ
“Gelarkanlah untuknya alas tidur dari api neraka. Bukakanlah untuknya sebuah pintu ke neraka.”
Panas dan uap panas neraka pun mengenainya. Lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berimpitan. Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang jelek wajahnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Orang itu berkata, “Bergembiralah engkau dengan perkara yang akan menyiksamu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan dengannya (di dunia).”
Dia bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.”
Orang itu menjawab, “Aku adalah amalanmu yang jelek.”
Dia pun berkata, “Wahai Rabbku, jangan Engkau datangkan hari kiamat.” (HR. Ahmad, an-Nasai, Ibnu Majah, dan al-Hakim; Syaikh al-Albani menilainya sahih dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 1676)
4. Mulutnya dirobek-robek.
5. Dimasukkan ke dalam tanur yang dibakar.
6. Kepalanya dipecah di atas batu.
7. Disiksa di sungai darah; apabila dia hendak keluar dari sungai itu, dilempari batu pada mulutnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Jibril dan Mikail alaihimas salam,
فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ. قَالَا: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالْكَذْبَةِ فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهْرِ آكِلُوا الرِّبَا
“Beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku lihat.”
JIbril dan Mikail menjawab, “Ya. Adapun orang yang engkau lihat dirobek mulutnya, dia adalah pendusta. Dia berbicara dengan kedustaan lalu kedustaan itu dinukil darinya sampai tersebar luas. Dia pun disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat.
Adapun orang yang engkau lihat dipecah kepalanya, dia adalah orang yang telah Allah ajari Al-Qur’an, tetapi dia tidur malam (dan tidak bangun untuk shalat malam). Pada siang hari pun dia tidak mengamalkannya. Dia pun disiksa dengan siksaan tersebut hingga hari kiamat.
Adapun orang yang engkau lihat disiksa dalam tanur, mereka adalah pezina.
Adapun orang yang engkau lihat di sungai darah, dia adalah orang yang memakan harta dari hasil riba.” (HR. al-Bukhari no. 1386 dari Jundub bin Samurah radhiallahu anhu)
8. Dicabik-cabik oleh ular-ular yang besar dan ganas
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
فَإِذَا أَنَا بِنِسَاءٍ تَنْهَشُ ثَدْيَهُنَّ الْحَيَّاتُ، فَقُلْتُ: مَا بَالُ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ: اللَّوَاتِي يَمْنَعْنَ أَوْلَادَهُنَّ أَلْبَانَهُنَّ
Tiba-tiba, aku melihat para wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik oleh ular yang ganas. Aku bertanya, “Ada apa dengan mereka?”
Malaikat menjawab, “Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan dibenarkan oleh syariat).” (HR. al-Hakim; Syaikh Muqbil rahimahullah dalam al-Jami’ush Shahih berkata bahwa ini adalah hadits sahih dari Abu Umamah al-Bahili radhiallahu anhu.)
Demikian artikel tentang sebab-sebab azab kubur dan macam-macam siksa kubur. Kita berlindung kepada Allah agar dijauhkan dan diselamatkan dari siksa kubur. Wallahu a’lam.
Sumber: Asysyariah. Com

Bagikan:

Tags

Leave a Comment