Tahapan Belajar Sirah Nabawiyah

No comments
Tahapan Belajar Sirah Nabawiyah
Oleh: Yan S. Prasetiadi
Fatwapedia.com – Sirah nabawiyah menjabarkan perihal kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kelahiran, pertumbuhan, misi dakwah, jihad dan peperangan melawan kaum musyrik, hingga masa baginda wafat. Sirah nabawiyah banyak bersandar pada hadits yang diriwayatkan sahabat, tabi’in dan generasi setelahnya.
Artinya secara genealogis, sirah nabawiyah merupakan bagian dari hadits, yang pada awalnya tidak terpisahkan bahkan hingga kini. Silahkan buka beragam kitab hadits, pasti memuat bab mengenai al-Maghazi, al-Jihad dan as-Siyar. Atas dorongan dan perintah al-Manshur seorang Khalifah Abbasiyyah, Ibnu Ishaq rahimahullah (w. 153 H) menyusun sirah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertitel al-Maghazi wa as-Siyar. Selanjutnya Ibnu Hisyam rahimahullah (w. 218 H) menjadikannya pegangan dalam menyusun as-Sirah an-Nabawiyyah yang populer hingga masa kini.
Demikianlah akhirnya disusun kitab khusus mengenai sirah ini, dengan tetap mempertahankan gaya penulisan hadits yang senantiasa mencantumkan periwayatan. Karena itu verifikasi peristiwa dan kejadian dalam sirah tidak akan membingungkan sebagaimana buku sejarah masa kini, sebab sirah menggunakan metode verifikasi yang sama dengan hadits.
Ini berarti sebagaimana as-Sunnah yang merupakan dalil syara, maka sirah nabawiyah pun jelas merupakan dalil syara yang bisa digali darinya hukum syara. Berdasarkan itu, secara normatif kita mengkaji sirah untuk diamalkan sebagai hukum syara, bukan sekedar pengetahuan sejarah biasa. Mengingat betapa pentingnya sirah nabawiyah tersebut, sampai-sampai penulis Irsyadul ‘Ibad mewajibkan seorang ayah mengajarkan dasar-dasar sirah nabawiyah kepada anaknya.

Tahapan Belajar Sirah

Dalam belajar sirah nabawiyah, ada beberapa tahap yang bisa dilalui:
(1) Tahap awal atau tahap pemantapan dasar; dimana pengkaji bisa menghapal matan sirah yang ringkas dan berbagai peristiwa sirah nabawiyah.
(2) Tahap kedua atau tahap deskripsi; dimana pengkaji bisa mempelajari literatur yang fokus kepada narasi rangkaian kejadian fakta di dalam sirah nabawiyah.
(3) Tahap ketiga atau tahap studi dan analisis; dimana pengkaji bisa mempelajari literatur yang meliputi banyak fakta yang disertai analisis dan penarikan kesimpulan. Dalam tahap ini, ada literatur menarik yang masuk kategori, misalnya: Qira’ah Siyasiyyah li as-Sirah an-Nabawiyyah karya Prof. Muhammad Rawwas Qal’ahji, dan ad-Daulah al-Islamiyyah karya al-‘Allamah Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani rahimahullah.
(4) Tahap keempat atau tahap spesialisasi; dimana pengkaji bisa mempelajari semua peristiwa, peperangan, atau ekspedisi militer, dengan pembahasan luas dan kajian mendalam. Dengan menghimpun semua informasi tentang kejadian, berdasarkan pembacaan teliti terhadap referensi primer dalam bidang sirah nabi, seperti: Maghazi karya al-Waqidi, Sirah karya Ibnu Hisyam, ar-Raudh al-Unuf karya as-Suhaili sejumlah tujuh jilid, ath-Thabaqat al-Kubra’ karya Ibn Sa’ad, Tarikh ath-Thabari, al-Kamil fi at-Tarikh karya Ibnu al-Atsir, al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir, Subul al-Huda’ wa ar-Rasyad sejumlah empat belas jilid, Imta’ al-Asma’ karya al-Maqrizi sejumlah empat belas jilid, Syadzarat adz-Dzahab karya Ibnu ‘Imad al-Hanbali, ‘Uyun al-Atsar karya Ibnu Sayyid an-Nas, dan beragam karya primer lainnya dalam bidang sirah.

Manfaat Belajar Sirah

Banyak sekali hal yang bisa dipelajari dalam sirah nabawiyah, baik berkaitan dengan hukum syariah maupun metode dakwah. Baik posisi nabi sebagai individu, pemimpin kelompok dakwah dan juga sebagai kepala negara atau pemimpin perang. Termasuk juga memahami sikap dan ijma’ para sahabat ridhwanullah ‘alaihim yang senantiasa menemani nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam konteks tema, banyak sekali yang bisa dikaji dan dijadikan panduan dalam seluruh aspek kehidupan. Misalnya: (1) awal mula menerima wahyu dan dakwah; (2) pembentukan dan aktivitas kelompok dakwah sahabat; (3) dakwah kepada masyarakat Mekkah dan solusi rintangan dakwah; (4) tahapan dan perluasan dakwah ke luar jazirah Arab; (5) dakwah di masyarakat Madinah; (6) baiat aqabah, hijrah dan pendirian negara Madinah; (7) membangun dan mempersatukan masyarakat Madinah; (8) persiapan dan strategi perang; (9) mekanisme perjanjian Hudaibiyyah; (10) posisi dan kebijakan terhadap non muslim di negara Madinah;  (11) peperangan penting yang dihadapi negara Madinah; (12) kebijakan politik dalam dan luar negeri negara Madinah; (13) struktur pemerintahan negara Madinah; dan (14) proses peralihan kepemimpinan negara pasca nabi wafat. Inilah yang bisa dipelajari dari sirah nabawiyah. Wallahu a’lam.
Sumber:
  • Al-Mausu’ah al-Islamiyyah al-‘Ammah, Kementrian Waqaf – Majelis Tinggi Urusan Islam Mesir, 2002.
  • Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, Bab as-Sirah wa at-Tarikh, Taqiyuddin an-Nabhani, Editor: Hisyam bin Abdul Karim al-Badrani, 2001.
  • Irsyad al-Ibad ila Sabil ar-Rasyad, Syaikh Zainuddin al-Malibari, 2018.
  • Al-Khulashah al-Bahiyyah fi Tartib Ahdats as-Sirah an-Nabawiyyah, Wahid bin Abdus Salam Bali, 2011.

Bagikan:

Tags

Leave a Comment