Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 14-15, Setan-setan Manusia

No comments
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 14-15, Setan-setan Manusia


DR. Ahmad Zain An Najah, MA

Fatwapedia.com – Isi dan Kandungan pokok surat Al Baqarah ayat ke 14-15 adalah menceritakan sifat orang-orang munafik. Diantara karakter orang munafik mereka adalah setan dari golongan manusia, namun mereka adalah seburuk-buruk orang dan makhluk di muka bumi. Inilah penjelasan pokok kandungan serta tafsir selengkapnya dari ayat 14-15 surat al Baqarah.

وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمۡ قَالُوٓاْ إِنَّا مَعَكُمۡ إِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَهۡزِءُونَ  
“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.” (Qs. Al-Baqarah {2}: 14)
1. Pengertian Syetan
– Syetan dari (sya-tha-na) yaitu jauh dari kebaikan.
– Sebagian menyatakan kata syetan dari (sya-tha) yaitu hancur dan celaka.
Kalau dua pendapat tersebut digabung maka syetan artinya sesuatu yang dijauhkan dari kebaikan dan dipastikan akan hancur dan celaka.
Syetan ada dua macam: syetan dari jenis manusia dan syetan dari jenis jin. Hal ini tersebut di dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala  :
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ  
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Qs. Al-An’am {6}: 112)
Ayat di atas menunjukkan bahwa musuh Nabi ada dua yaitu syetan manusia dan syetan jin.
 2. Para Pembesar Kafir
Orang-orang munafik jika berteman dengan orang-orang beriman, mereka akan mengatakan “kami orang-orang beriman juga, seperti kalian.”
Tetapi ketika mereka kembali dan berkumpul dengan para pembesar mereka, mereka mengatakan “Sesungguhnya kami bersama kalian. Ketika kami Bersama orang -orang beriman itu hanyalah tipu muslihat, pura-pura, mempermainkan mereka saja.”
Jadi orang-orang munafik terdiri dari anggota-anggota yang bertugas menyusup dalam barisan orang-oraang beriman dan juga terdiri dari pembesar yang menerima laporan dari anggota. Para pembesar inilah yang Allah sebut dengan syetan-syetan manusia.
Ini mirip dengan syetan-syetan jin, yaitu para pembesar jin yang mengumpulkan anggota mereka dalam satu majelis dan menanyakan tugas mereka masing-masing. Salah satu anggota mereka yang dipuji oleh pembesarnya adalah syetan yang berhasil memisahkan suami istri dan memporak porandakan keluarga. Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
….فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦۚ ….
“…Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya…” (Qs. Al-Baqarah {2}: 102)
3. Al-Istidraj (Pembiaran)
Allah membalas olok-olokan mereka, sebagaimana dalam firman-Nya :
ٱللَّهُ يَسۡتَهۡزِئُ بِهِمۡ وَيَمُدُّهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهون  
 
“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (Qs. Al-Baqarah {2}: 15)
Ayat di atas menunjukkan satu kaedah dalam ajaran Islam, yaitu
الجزاء من جنس العمل
“Balasan itu sesuai dengan jenis amalan seseorang.”
Karena orang-orang munafik mengolok-olok orang-orang beriman dan mempermainkan mereka, maka Allah membalas olokan-olokan dan mempermainkan mereka.
Di antara bentuk balasan Allah kepada mereka adalah yang tersebut pada ayat selanjutnya yaitu firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
(وَيَمُدُّهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ )
“Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.”
Sebagian ulama menyebut balasan Allah kepada mereka dengan istilah “Al-Istidraj” yaitu memanjangkan umur mereka dan membiarkan mereka dalam kenikmatan dunia dengan kekuasaan dan kekayaan yang Allah berikan. Kemudian pada saatnya, Allah akan membinasakan mereka dengan adzab di dunia dan di akhirat.
Inilah salah satu makna (يَمُدُّهُمۡ), yaitu memanjangkan umur mereka dan memberikan mereka kekuasaan dan kekayaan.
Hal ini dikuatkan di ayat-ayat lain sebagai berikut;
Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
 
وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّمَا نُمۡلِي لَهُمۡ خَيۡرٞ لِّأَنفُسِهِمۡۚ إِنَّمَا نُمۡلِي لَهُمۡ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِثۡمٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ 
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Qs. Ali-Imran {3}: 178)
 
Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah memberikan tangguh dengan umur panjang dan tambahan rezeki kepada orang-orang kafir agar bertambah dosa mereka dan bertambah siksa mereka.
Firman Allah Suhbanahu wa ta’ala :
 
 أَيَحۡسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِۦ مِن مَّالٖ وَبَنِينَ ٥٥ نُسَارِعُ لَهُمۡ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ بَل لَّا يَشۡعُرُونَ   
“(55) Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), (56) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Qs. Al-Mukminun {23}: 55-56)
Ayat di atas menunjukkan bahwa pemberian Allah kepada orang-orang kafir, berupa anak dan harta tidaklah menunjukkan kafir bagi mereka, tapi justru merupakan istidraj (pemberian tangguh untuk kemudian di adzab dengan adzab yag pedih)
Istidraj ini bisa digambarkan seperti orang yang memelihara ayam pedaging. Pemiliknya memberikan kepada ayam-ayamnya makanan yang banyak agar ayam-ayam tersebut gemuk dan akhirnya disembelih.
Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
 
فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ ٤٤ فَقُطِعَ دَابِرُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْۚ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِين  
“(44) Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (45) Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am {6}: 44-45)
 
Ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang kafir ketika berbuat maksiat, kadang Allah malah menambah mereka kenikmatan dunia, sampai dalam kondisi mereka bergembira dengan pemberian Allah tersebut dan mereka berfoya-foya dengannya, maka tiba-tiba Allah menurunkan adzab kepada mereka.
Ternyata Allah tidak saja memberi tangguh kepada syetan manusia (orang-orang kafir), tetapi juga memberi Tangguh kepada syetan jin (iblis) untuk berbuat maksiat dan menyesatkan manusia. Di antara ayat yang menunjukkan hal itu adalah sebagai berikut:
 
Firman Allah Suhhanahu wa ta’ala :
 
قَالَ أَنظِرۡنِيٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٤ قَالَ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ 
“(14) Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. (15) Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”.” (Qs. Al-A’raf {7}: 14-15)
 
Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
ٱدخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ ٤٦ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ إِخۡوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٖ مُّتَقَٰبِلِينَ ٤٧ لَا يَمَسُّهُمۡ فِيهَا نَصَبٞ وَمَا هُم مِّنۡهَا بِمُخۡرَجِينَ ٤٨  
“(36) Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan, ( 37 )   Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, ( 38 ) sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan,” (Qs. Al-Hijr{15} : 36-38)
 
Firman Allah Subhanahu wa ta’ala ;
 
قَالَ أَرَءَيۡتَكَ هَٰذَا ٱلَّذِي كَرَّمۡتَ عَلَيَّ لَئِنۡ أَخَّرۡتَنِ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَأَحۡتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُۥٓ إِلَّا قَلِيلٗا  
“Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.” (Qs. Al-Isra’ {17}: 62)
Salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kita dijauhkan dari adzab atau musibah mendadak adalah sabdanya :
عن عبد الله بن عمر – رضي الله عنهما – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
“Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam: ‘Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dan dari pindahnya keselamatan yang Engkau berikan, dan dari kedatangan sangsi-Mu yang  tiba-tiba, serta dari seluruh murka-Mu’.” (HR. Muslim). Wallahu A’lam.

Bagikan:

Tags

Leave a Comment