Rahasia Jumlah Kata Halal Dalam Al-Qur’an

No comments

Fatwapedia.com – Al-Qur’an adalah sumber informasi akurat dan terpercaya. Al-Qur’an memuat berbagai rahasia yang manusia tidak sanggup mengungkapnya. Hanya sebagian saja yang mampu dianalisa dan terbukti kebenarannya. 

Ibnu Abbas (ra) pernah berkata,

“Imam ‘Ali bin Abi Thalib (ra) dikaruniai 90 persen ilmu, dan dia orang yang paling mengetahui 10 persen sisanya. Ia telah menyusun Kitab al-Jafr al-Jami’ tentang rahasia-rahasia huruf, di dalamnya memuat apa yang terjadi pada orang-orang belakangan. Di dalamnya terdapat Ismul ‘Azham, Mahkota Adam (as), Cincin Sulaiman (as) dan Hijab Asif bin Barkhiya. Para Imam ar-Rasikhun dari anak keturunannya mengetahui rahasia Kitab-Kitab Ilahi dan inti kitab yang bercahaya ini. Ia adalah 1700 sumber yang dikenal dengan nama al-Jafr al-Jami’ dan an-Nur al-Lami’. Ia adalah sebuah lauh qadha dan qadar. Kemudian Imam Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib (ra) mewarisi ilmu rahasia huruf ini dari Imam ‘Ali bin Abi Thalib (ra), kemudian Imam ‘Ali Zainal Abidin bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib (ra) mewarisi ilmu rahasia huruf ini dari Imam Husain (ra), kemudian Imam Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin (ra) mewarisi ilmu rahasia huruf ini dari Imam ‘Ali Zainal Abidin (ra), kemudian Imam Jafar ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir (ra) mewarisi ilmu rahasia huruf ini dari Imam Muhammad al-Baqir, dan Imam Jafar ash-Shadiq (ra) lah yang menyelami dasar-dasarnya yang dalam, mengeluarkan mutiara-mutiaranya dari peti-peti rahasianya, mengurai teka-teki simbolnya, dan membuka segel-segel kekayaannya yang tersimpan. Imam Jafar ash-Shadiq (ra) lah yang telah menyusun al-Khafiyah (rahasia yang tersembunyi) tentang Al-Jafr dan meletakkan tartib abjadiyah sampai qarsyat dalam al-Bab al-Kabir (pintu yang agung).”
Catatan:
Tartib abjadiyah ini kemudian dipatenkan di Madinah oleh Imam Ja’far ash-Shadiq (ra) lalu disempurnakan di Baghdad pada era Dinasti Abbasiyah dengan nama “al-‘Ad al-Jumal” atau “al-Hisab al-Jumal” yang pada level kerumitan yang lebih tinggi disebut dengan nama “al-‘ilmu al-Jafr“.
***
Dalam Kitab al-Jafr al-a’zham (Madzaa Qaala ‘Ali an-Akhiri az-Zamaan – Ramalan Akhir Zaman Imam ‘Ali bin Abi Thalib ra) disebutkan bahwa Ilmu al-Jafr akan muncul di akhir zaman bersama Imam al-Mahdi (ra). Selain dia tidak ada satu pun yang mengenal hakikat.
Nah salah satu bentuk nyata implementasi dari Tartib Abjadiyah yang dikenal dengan nama “al-‘Ad al-Jumal” atau “al-Hisab al-Jumal” yang pada level kerumitan yang lebih tinggi disebut dengan nama “al-‘ilmu al-Jafr“ ini misalnya pada tulisan logo HALAL yang baru dirilis oleh Kementerian Agama yang resmi menggantikan logo HALAL yang lama yang dirilis oleh Majelis Ulama Indonesia.
Jika logo HALAL yang lama yang dirilis oleh Majelis Ulama Indonesia basicnya ditulis dengan Khat NASKHI yang memiliki karakter huruf yang sederhana, dan nyaris tanpa hiasan tambahan, serta mudah dibaca, maka berbeda halnya dengan logo HALAL yang baru dirilis oleh Kementerian Agama yang basicnya ditulis dengan Khat KUFI. Namun kita akan menemukan sedikit kejanggalan pada bentuk tulisannya, dimana pada huruf HA-nya terlihat terdapat tambahan garis lurus ke bawah yang justru tidak sesuai dengan Khat KUFI. Selain itu, huruf LAM-nya yang di tengah lebih menyerupai huruf RA dalam Khat KUFI. Sedangkan huruf LAM yang di akhir yang dibentuk mirip bulatan lebih menyerupai huruf MIM dalam Khat KUFI. Sehingga alih-alih ingin menyampaikan sebuah pesan tentang kata HALAL ( حلال ), malah logo HALAL yang baru dirilis oleh Kementerian Agama ini justru akan terbaca sebagai kata HARAM ( حرام ).
Nah dalam konteks Ilmu al-‘Ad al-Jumal atau al-Hisab al-Jumal yang masih terbagi menjadi al-Hisab al-Jumal al-Kubra dan al-Hisab al-Jumal ash-shugra, maka baik kata HALAL ( حلال ) ataupun kata HARAM ( حرام ) sama-sama memiliki nilai hitungan al-Hisab al-Jumal ash-shugra sebesar “15”.
Dalam hitungan al-Hisab al-Jumal al-Kubra, maka kata HALAL ( حلال ) memiliki hitungan sbb:
  • Ha ( ح ) = 8.
  • Lam ( ل ) = 30.
  • Alif ( ا ) = 1.
  • Lam ( ل ) = 30.
Total hitungan untuk kata HALAL ( حلال ): 
8+30+1+30 = 69.
Dan kata HARAM ( حرام ) memiliki hitungan sbb:
  • Ha ( ح ) = 8.
  • Ra ( ر ) = 200.
  • Alif ( ا ) = 1.
  • Mim ( م ) = 40.
Total hitungan untuk kata HARAM ( حرام ): 
= 8+200+1+40 = 249.
Namun dalam hitungan al-Hisab al-Jumal ash-Shughra, maka kata HALAL ( حلال ) memiliki hitungan sbb:
  • Ha ( ح ) = 8.
  • Lam ( ل ) = 3.
  • Alif ( ا ) = 1.
  • Lam ( ل ) = 3.
Total hitungan untuk kata HALAL ( حلال ): 
 8+3+1+3 = 15.
Dan kata HARAM ( حرام ) memiliki hitungan sbb:
  • Ha ( ح ) = 8.
  • Ra ( ر ) = 2.
  • Alif ( ا ) = 1.
  • Mim ( م ) = 4.
Total hitungan untuk kata HARAM ( حرام ):  8+2+1+4 = 15.
Meskipun dalam hitungan al-Hisab al-Jumal al-Kubra, kata HALAL ( حلال ) dan kata HARAM ( حرام ) memiliki nilai hitungan yang berbeda, namun dalam hitungan al-Hisab al-Jumal ash-Shughra, baik kata HALAL ( حلال ) ataupun kata HARAM ( حرام ) keduanya sama-sama memiliki nilai hitungan 15.
Lalu apa makna yang merahasia dari bilangan 15 ini?
Dalam konteks Tartib Abjadiyah yang dikenal dengan nama “al-‘Ad al-Jumal” atau “al-Hisab al-Jumal” yang pada level kerumitan yang lebih tinggi disebut dengan nama “al-‘ilmu al-Jafr”, maka khafiyah (rahasia tersembunyi) dari bilangan 15 ini termanifestasi dalam huruf SIN ( س ) yang dalam pelafalannya sebagai Aksara Eja, akan terbaca sebagai SI-Y-N (baca: SIIN) yang seakan-akan dari pelafalannya terdengar samar-samar huruf YA ( ي ) dan huruf NUN ( ن ).
  • Aksara Tulis = SIN ( س ). 
  • Aksara Eja = SIYN ( س-ي-ن ).
Dan dari pelafalan Aksara Eja SIYN ( س-ي-ن ) ini kemudian melahirkan kosakata-kosakata sebagai berikut:
SA-YI-N: melahirkan kata SAINS (dalam bahasa indonesia bermakna “pengetahuan”).
SI-YA-N: melahirkan kata SIAN / SIANG (dalam bahasa Bugis bermakna “terang”).
SI-Y-N: melahirkan kata SIN (dalam bahasa Inggris bermakna “dosa”.
Inilah khafiyah (rahasia tersembunyi) dari bilangan “15” yang merupakan nilai hitungan al-Hisab al-Jumal ash-Shughra dari kata HALAL ( حلال ) ataupun HARAM ( حرام ) yang termanifestasi sebagai huruf SIN ( س ) yang dalam pelafalannya sebagai Aksara Eja akan terbaca sebagai SI-Y-N (baca: SIIN) yang melahirkan kosakata-kosakata seperti: SA-YI-N (baca: SAINS, bermakna “pengetahuan”), SI-YA-N (baca: SIAN/SIANG, bermakna “terang” dan juga SI-Y-N (baca: SIN, bermakna “dosa”).

Bagikan:

Tags

Leave a Comment