Kisah Abdulloh Bin Mas’ud Pembaca Qur’an Pertama yang Merdu

No comments

Fatwapedia.com – Sebelum Rasulullah menjadikan rumah Arqam sebagai tempat pertemuannya dengan para sahabat, Abdullah bin Mas’ud sudah masuk islam, dan merupakan orang keenam yang masuk Islam. Dengan demikian, ia termasuk golongan As-Sabiqunal Awwalun (orang-orang pertama kali memeluk Islam).
la pernah bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Rasulullah.
“Saat itu, usiaku beranjak remaja. Aku menggembalakan kambing milik Uqbah bin Mu’ith. Suatu hari, aku didatangi Nabi saw. bersama Abu Bakar dan bertanya, “Nak, apakah kamu punya susu yang bisa kami minum?” Aku menjawab, “Kambing-kambing ini adalah amanah yang harus kupelihara. Aku tidak bisa memberi kalian minum.
“Nabi saw. bertanya, “Apakah kamu punya kambing betina yang belum dikawini oleh pejantan?”
“Ada,” jawabku. Lalu aku bawa kambing itu kepada mereka.
Nabi saw. memegang kambing itu dan mengusap susunya dan berdoa kepada Rabb nya. Tiba-tiba, perut kambing itu membesar dan penuh dengan air susu. Abu Bakar mendekat dengan membawa batu cekung sebagai tempat susu perahan, lalu Abu Bakar minum susu itu. Aku pun meminum susu itu.
Setelah itu, Nabi bersabda, “Mengempislah.” Dan susu itu mengempis seperti semula.
Aku menghampiri Nabi dan berkata, “Ajarkan kepadaku ucapan itu. Nabi menjawab, “Kamu adalah anak muda yang selalu diajari.”
Ibnu Mas’ud terpesona ketika melihat Nabi saw berdoa kepada Rabb nya dan mengusap perut kambing yang belum waktunya mengeluarkan susu. Tiba-tiba, perut kambing itu membesar dan mengeluarkan air susu yang melimpah dan enak dirninum.
Saat itu, ia belum sadar bahwa apa yang ia lihat hanyalah satu mukjizat kecil. Setelah itu, ia akan menyaksikan mukjizat-mukjizat yang jauh lebih besar, mukjizat yang menggetarkan dunia, sekaligus memancarkan cahaya petunjuk.
Bahkan pada saat itu, ia belum tahu bahwa dirinya yang notabene adalah anak muda lemah dan miskin yang menerima upah sehagai penggembala kambing milik ‘Uqbah bin Mu’ith, akan muncul sebagai salah satu dari mukjizat ini. Yaitu, ketika hidayah menuntunnya sebagai muslim dan mengalahkan kesombongan orang-orang Quraisy serta menaklukkan kesewenangan para pemukanya.
Selama ini, setiap berjalan lewat di hadapan salah seorang pembesar Quraisy, ia selalu berjalan cepat dengan menundukkan kepala. Namun setelah menjadi muslim, dengan langkah tegap, ia mendatangi kumpulan para pemuka Quraisy yang berada di Ka’bah. Di hadapan mereka, ia kumandangkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara merdunya.
“(Rabb) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajamya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Tetumbuhan dan pepohonan bersujud kepada-Nya.” (Ar-Rahman [55]: 1-6)
la melanjutkan bacaannya.
Sementara itu, para pemuka Quraisy samua terpesona. Mereka tidak percaya apa yang sedang mereka lihat dan mereka dengar. Belum pernah terbayangkan sama sekali bahwa orang yang menantang kekuasaan dan kesombongan mereka adalah salah seorang penggembala kambing yang mereka beri upah, milik salah seorang dari mereka. Dia adalah Abdullah bin Mas’ud, seorang miskin yang hina.
Mari kita dengar saksi mata menceritakan peristiwa menajubkan ini.
Zubair berkata, “Yang pertama kali mengumandangkan Al-Qur’an di Mekah selain Rasulullah saw, adalah Abdullah bin Mas’ud ra. Suatu hari, para sahabat Rasulullah berkumpul. Mereka berkata, “Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengat Al-Qut’an ini dikumandangkan di hadapan mereka. Siapa di antara kita yang bersedia memperdengrkan kepada merek?”
” Ibnu Mas’ud berkata, “Aku.
” Mereka berkata, “Kami mengkhawatirkan keselamatanmu. Yang kami inginkan ialah seorang laki-laki yang mempunyai kerabat yang akan melindunginya dari orang-orang itu.”
Berilah aku kesempatan. Allah yang akan membelaku,” kata Ibnu Mas’ud.
Saat waktu dhuha (pagi menjelang siang), ketika para pemuka Quraisy berada di balai pertemuan mereka, Ibnu Mas’ud mendatangi mereka. Dengan berdiri dan dengan suaranya yang merdu, ia membaca firman Allah,
“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.” (Ar-Rahman: 1-2)
Mereka memperhatikannya sambil bertanya kepada sesamanya, “Apa yang dibaca oleh anak Ummu ‘Abdi itu?” Yang lain menjawab, “Sungguh, ia membaca apa yang diserukan Muhammad.”
Ramai-ramai mereka mendekati Ibnu Mas’ud dan memukulinya. Namun Ibnu Mas’ud tetap melanjutkan bacaannya.
Setelah itu, dengan muka dan tubuh yang babak belur ia kembali kepada para sahabat. “Inilah yang kami khawatirkan terhadap dirimu,” kata mereka.
Ibnu Mas’ud ra, berkata, “Sekarang ini, musuh Allah yang paling hina di mataku adalah mereka. Jika kalian mau, besok aku akan melakukan hal yang sama.
Mereka berkata, “Sudah cukup, Engkau telah memperdengarkan kepada mereka apa yang mereka benci.
“Dulu, saat Ibnu Mas’ud tercengang melihat kambing muda yang tiba- iba mengeluarkan banyak air susu, ia sama sekali belum mengetahui bahwa dirinya dan rekan-rekannya dari kalangan orang-orang miskin akan menjadi satu dari mukjizat Rasulullah yang maha dahsyat, yaitu ketika mereka bangkit memanggul panji-panji Allah, menyibak cahaya matahari dan benderangnya siang hari.
Dulu, ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.
Hari itu pun tiba dengan cepat. Anak muda miskin yang hidup dari upah menggembala kambing itu, kini menjadi satu mukjizat besar Rasulullah.
Hidup yang penuh persaingan ini tidak pernah memberi kesempatan kepadanya untuk bersaing. Bahkan, dunia seakan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menginjakkan kakinya di muka bumi ini.
Tidak ada tempat baginya di kalangan hartawan. Begitu juga di lingkungan kesatria gagah perkasa, atau dalam deretan orang-orang yang berpengaruh.
Dalam soal harta, ia tidak punya apa-apa. Tentang perawakan tubuhnya, ia kecil dan kurus. Apalagi dalam soal derajat, ia berada di bawah.
Sebagai ganti dari tubuhnya yang kurus dan lemah, Islam memberinya kemauan kuat untuk menundukkan para penguasa zalim dan mengubah perjalanan sejarah.
Sebagai ganti dari nasibnya yang terkucilkan, Islam memberinya ilmu yang sangat luas, kemuliaan dan nama harum, sehingga ia berada di jajaran terdepan para tokoh sejarah.
Sungguh, tidak meleset ketika jauh sebelumnya Rasulullah saw. pernah bersabda kepadanya, “Kamu akan menjadi pemuda terpelajar.” la telah diberi pelajaran oleh Rabbnya hingga menjadi rujukan umat dalam urusan agama, dan rujukan para hafizhul-Qur’an (para penghafal Al- Qur’an).
la pernah berkata, “Aku hafal 70 surah Al-Qur’an langsung dari Rasulullah saw. Tidak seorang pun yang menyaingiku dalam hal ini.” Sepertinya, Allah swt ingin memberinya anugerah atas keberaniannya mempertaruhkan nyawa dalam mengumandangkan Al-Qur’an secara terang-terangan dan menyebarluaskannya di segenap pelosok kota Mekah, di saat siksaan dan penindasan kepada pengikut Nabi merajalela. Allah memberinya kemampuan istimewa dalam membaca dan memahami Al-Qur’an.
Rasulullah pernah berpesan kepada para sahabat untuk menjadikan Ibnu Mas’ud sebagai teladan, “Berpegang-teguhlah kepada apa yang diajarkan Ibnu Ummi Abdi (lbnu Mas’ud).
Beliau juga berpesan agar para sahabat meniru bacaan Qur’an Ibnu Mas’ud,
“Barangsiapa yang ingin mendengar Al-Qur’an seperti saat diturunkan, hendaklah ia mendengarkannya dari lbnu Ummi Abdi. Barang siapa yang ingin membaca Al-Qur’an seperti saat diturunkan, hendaklah ia membacanya seperti bacaan Ibnu Ummi Abdi.
Rasulullah sendiri seringkali ingin mendengarkan bacaan Ibnu Mas’ud. Suatu hari, beliau memanggilnya dan bersabda, “Abdullah, bacalah untuku
Abdullah menjawab, “Aku membacanya untukmu, ya Rasulullah, padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu?!”
Rasulullah menjawab, “Aku ingin mendengarnya dari orang lain.” Maka, Ibnu Mas’ud membaca beberapa ayat dari surah an-Nisa’. Ketika sampai pada firman Allah Ta’ala,
“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Di hari itu, orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) suatu kejadian pun.” (An-Nisa: 41-42)
Rasulullah tidak dapat menahan tangisnya. Air matanya bercucuran. Dengan isyarat tangan, beliau menyuruh lbnu Mas’ud menghentikan bacaannya.
Ibnu Mas’ud juga pernah berkata, “Setiap bagian dari Al-Qur’an yang diturunkan, aku pasti mengetahui ia diturunkan dalam masalah apa. Tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripada aku. Sekiranya ada orang yang lebih tahu tentang AL-Qur’an dariku dan tempatnya bisa ditempuh dengan unta, pasti aku akan berguru kepadanya. Dan aku bukan yang terbaik di antara kalian.”
Keistimewaan lbnu Mas’ud ini telah diakui oleh para sahabat. Khalifah Umar berkata mengenai dirinya, “Pemahamannya tentang ajaran agama benar-benar mencapai kesempurnaan.
Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Jangan menanyakan urusan agama kepada kami selama pakar agama ini berada di antara kalian.”
Yang pantas diacungi jempol bukan hanya keunggulannya dalam Al. Qur’an dan pemahaman agama, tetapi keshalihan dan ketakwaannya juga patut mendapat pujian.
Hudzaifah berkata, “Tidak seorang pun yang lebih mirip dengan Rasulullah saw. baik dalam cara hidup, perilaku dan ketenangan jiwanya, daripada Ibnu Mas’ud. Para sahabat terdepan juga sadar bahwa putra Ummi ‘Abdi inilah yang paling dekat kepada Allah.”
Suatu hari, beberapa sahabat berkumpul di tempat Khalifah Ali. Mereka berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mu’minin, kami tidak melihat orang yang lebih berbudi pekerti, lebih lemah-lembut dalam mengajar, lebih baik pergaulannya, dan lebih shalih daripada Abdullah bin Mas’ud.”
Khalifah Ali berkata, “Dengan nama Allah, aku bertanya kepada kalian, apakah ucapan kalian ini benar-benar dari hati kalian?”
“Benar,” jawab mereka.
Khalifah Ali berkata, “Ya Allah, Engkaulah yang menjadi saksi bahwa aku juga berpendapat seperti mereka, atau bahkan lebih dari itu. Sungguh, ia telah membaca Al-Qur’an. la halalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram. Pemahamannya tentang ajaran agama dan sunah Nabi sangat luas.”
Suatu saat, para sahabat berbicara di antara mereka, “Sungguh, Ibnu Mas’ud diberi izin menemui Rasul saat kita tidak diberi izin. la banyak bersama Rasul sementara kita tidak.”
Yang mereka maksud adalah Ibnu Mas’ud lebih sering diberi izin menemui Rasulullah di rumahnya. la juga lebih sering bersama Rasulullah. Kesempatan yang jarang didapat oleh sahabat yang lain. Bahkan, ia menjadi tumpuan rahasia Rasulullah, hingga dijuluki “Kotak Hitam.” Tempat rasulullah mnumpahkan keluhan dan rahasia.
Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Sungguh, setiap aku melihat Rasulullah saw., pastilah Ibnu Mas’ud bersamanya, hingga seperti tempat rasulullah menumpahkan keluhan dan rahasia. keluarganya sendiri.”
Semua itu karena Rasulullah saw., sangat menyayanginya. Beliau sangat sayang karena keshalihan, kecerdasan dan kebesaran jiwanya, hingga Rasulullah pernah bersabda,
“Seandainya aku harus mengangkat sescorang sebagai pemimpin tanpa musyawarah dengan kaum muslimin, pasti aku memilih Ibnu Ummi Abdi.
Dan sebelum ini, kita telah mendengar pesan Rasulullah, “Berpegang teguhlah kepada ilmu Ibnu Ummi ‘Abdi!”
Rasa sayang dan rasa percaya inilah yang menjadikannya layak untuk sangat dekat dengan Rasulullah, hingga ia mendapatkan hak diberikan kepada orang lain. Rasulullah pernah bersabda kepadanya, “Aku izinkan kamu membuka tabir penutup.
“Ini merupakan lampu hijau bagi Ibnu Mas’ud untuk mengetuk pintu rumah Rasulullah kapan saja, siang atau malam hari.
Inilah yang pernah dikatakan oleh rekan-rekannya, “Saat kami tidak diberi izin, ia diberi izin. Saat kami absen, ia selalu hadir.”
Dan Ibnu Mas’ud memang layak memperoleh keistimewaan ini. Meskipun kedekatan ini semestinya membuatnya semakin bebas, terapi Ibnu Mas’ud hanya bertambah khusyu’, hormat dan sopan serta santun.
Mungkin gambaran yang melukiskan akhlaknya secara tepat, ialah sikapnya ketika menyampaikan hadits Rasulullah saw. setelah beliau watat. Walaupun ia jarang menyampaikan hadits dari Rasulullah saw. tetapi kita lihat setiap ia menggerakkan kedua bibirnya untuk mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda.,” maka tubuhnya bergetar hebat, tampak gugup dan gelisah. Sebabnya tidak lain karena ia takut salah menyampaikan sabda Rasulullah.
Marilah kita dengarkan kawan-kawannya melukiskan pemandangan ini.
Amr bin Maimun berkata, “Saya pulang-pergi ke rumah Abdullah bin Mas’ud selama setahun. Selama itu, saya tidak pernah mendengar ia menyampaikan hadits dari Rasulullah saw., kecuali satu hadits yang ia mengatakan, “Bagi Tuhan kalian, tiada siang dan tiada malam. Cahaya langit dan bumi bersumber dari cahaya-Nya.”
Ia juga berbicara tentang pentingnya bekerja dan meningkatkan aspek moral pekerja, “Aku sangat benci melihat seorang laki-laki menganggur tidak bekerja untuk mencari kepentingan dunia, dan tidak beribadak untuk kepentingan akhiratnya.”
Di antara pesannya yang singkat namun padat adalah, “Sebaik-baik kekayaan ialah kaya hati, dan sebaik-baik bekal ialah takwa. Seburuk-buruk kebutaan ialah buta hati. Sebesar-besar dosa ialah berdusta. Sejelek-jelek usaha ialah memungut riba. Seburuk-buruk makanan ialah memakan harta anak yatim. Barangsiapa yang memaafkan orang lain akan dimaafkan oleh Allah; dan barangsiapa yang mengampuni orang  lain akan diampuni oleh Alloh.
Inilah Abdullah bin Mas’ud, sahabat Rasulullah saw. Dan inilah cerita singkat tentang suatu kehidupan penuh kemuliaan dan kepahlawanan. Sebuah kehidupan yang dibaktikan untuk Allah, Rasul-Nya dan agama- Nya.
Dialah laki-laki yang ukuran tubuhnya sebesar tubuh burung pipit. Tubuhnya kurus dan pendek, hingga tinggi badannya tidak berbeda dengan orang yang sedang duduk. Kedua betisnya kecil dan tidak berisi.
Suatu hari, ia memanjat pohon arok dan kedua betisnya terlihat oleh para sahabat yang lain. Para sahabat pun menertawakan betis yang kecil itu. Namun, Rasulullah bersabda, “Kalian menertawakan betis Ibnu Mas’ud. Ketahuilah, di sisi Allah, kedua betis itu lebih berat timbangannya dibandingkan gunung Uhud.”
Memang, laki-laki ini orang miskin, buruh yang diupah, berbadan kurus dan kecil, tetapi keyakinan dan keimanannya telah menjadikannya satu dari jajaran para pelopor kebaikan, petunjuk, dan cahaya.
la telah dikaruniai kemudahan dan nikmat dari Allah yang menyebabkannya termasuk “sepuluh orang yang dijamin masuk surga”. Berita ini mereka terima saat mereka masih hidup.
la tak pernah absen dalam setiap peperangan, baik di masa Rasulullah maupun pada masa para khalifah.
la menyaksikan bagaimana dua negara adidaya saat itu, membukakan pintunya untuk dimasuki panji-panji Islam.
la mengalami hidup di masa kemudahan, di mana jabatan terbuka luas bagi kaum muslimin, dan harta kekayaan berlimpah. Akan tetapi, ia sama sekali tidak tertarik dengan itu. la lebih memilih membaktikan hidupnya untuk Allah dan Rasul-Nya. la lebih mementingkan heribadah dengan khusyu”.
Cita-citanya hanya satu. Bahkan, in sering mengutarakan cita-ciranya itu dan sangat ingin mencapainya. Berikut ini tutur katanya tentang apa yang ia cita-citakan.
“Aku bangun tengah malam. Saat itu, aku berada di Perang Tabuk. Aku melihat nyala api di pinggir perkemahan. Aku mendekati nyala api itu, ternyata Rasulullah bersama Abu Bakar dan Umar. Mereka mau memakamkan Abdullah Dzulbijadain Al-Muzanni yang telah syahid. Rasulullah saw. ada di dalam lubang kubur itu, sementara Abu Bakar dan Umar mengulurkan jenazah kepadanya. Rasulullah bersabda, ‘Ulurkanlah saudara kalian ini lebih dekat kepadaku.” Lalu mereka mengulurkan kepadanya. Setelah diletakkan di dasar kubur, beliau berdoa, “Ya Allah, aku telah ridha kepadanya, maka ridhai-lah dia.’ Alangkah indahnya jika yang berada dalam kubur itu adalah aku,” gumam ibnu mas’ud.
Itulah cita-cita yang sangat dirindukannya. Cita-cita yang jauh dari pangkat dan jabatan yang biasa diperebutkan oleh banyak orang. Cita cita orang yang berjiwa besar, berhati mulia, dan memiliki keyakinan kuat.
Dia-lah laki-laki yang dibimbing oleh Allah, dididik oleh Rasulullah. dan diarahkan oleh Al-Qur’an.
Referensi : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW

Bagikan:

Tags

Leave a Comment