Ilmu Tajwid Dasar, Cocok Untuk Pemula

No comments

 

Ilmu Tajwid Dasar, Cocok Untuk Pemula

Pendahuluan

Apa hukum mempelajari ilmu tajwid? Mempelajari ilmu tajwid hukumnya terbagi menjadi dua, fardu ain dan fardu kifayah. Penjelasan dari keduanya akan disebutkan kemudian.

Al-Qur’an sebagai landasan hidup manusia memiliki
keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab yang lain.

Beberapa keistimewaan tersebut antara lain:

1. Keistimewaan Tilawah (membaca) Alquran adalah sebuah
kitab yang harus dibaca, bahkan sangat dianjurkan untuk dijadikan sebagai
bacaan harian. Allah Swt. menilainya sebagai ibadah bagi siapapun yang
membacanya. Pahala yang Allah berikan tidak dihitung per ayat atau per kata,
melainkan per huruf, sebagaimana penielasan Rasulullah Saw.

“Saya tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim itu satu
huruf, namun Alif adalah satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.”

2. Keistimewaan Tadabbur (merenungkan) Al-Qur’an mampu
menjadi ruh (penggerak) bagi kemajuan kehidupan manusia manakala selalu dibaca
dan ditadabburkan makna yang terkandung dalam setiap ayat-ayatnya. Allah Swt.
berfirman:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu sebuah run
(Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah
Alkitab itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu? Tetapi Kami menjadikan
Al-qur’an itu cahaya, yang Kami tunjukki dengannya siapa yang Kami kehendaki di
antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kami benar-benar memberi petunjuk
kepada jalan yang lurus.” (QS. 42: 52)

“lni adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu
penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburkan ayat-ayatNya dan supaya
menjadi peringatan bagi orang-orang yang berakal.” (QS. 38: 29)

3. Keistimewaan Hifzh (menghafal) Al-Qur’an selain dibaca
dan direnungkan juga perlu untuk dihafal. Dipindahkan dari tulisan ke dalam
dada, karena hal ini merupakan ciri khas orang-orang yang diberi ilmu, juga
sebagai tolok ukur keimanan dalam hati seseorang. Allah Swt. berfirman:

“Sebenarnya Alquran itu adalah ayat-ayat yang jelas di
dalam dada-dada orang yang diberi ilmu, dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami
kecuali orang-orang yang dzalim.” (QS. 29: 49)

Rasulullah Saw. Bersabda:

“Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak
terdapat sebagian ayat dari pada Al-Qur’an, bagaikan rumah yang tidak
berpenghuni.”

Buku ini disusun untuk membantu kaum muslimin agar dapat
menikmati keistimewaan yang pertama, yaitu tilawah. Pada hakikatnya tilawah
bukanlah hal yang sederhana, namun dalam bertilawah seorang qari’ (pembaca)
dituntut untuk menjaga keaslian {Asholah) bacaan Al-Qur’an seperti yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui Jibril. Allah Swt. berfirman:

“Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah
bacaannya itu.” (OS. 75: 18)

Karena itu, Rasul pun menunjuk dan memberi kepercayaan
kepada beberapa orang sahabat untuk mengajarkannya, di antara mereka adalah
Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, dan Salim Maula Abi Hudzaifah. Para sahabat kemudian
mengajarkan kepada para tabi’in, dan demikianlah seterusnya Alquran diajarkan
secara turun temurun dalam keadaan asli tanpa terkurangi huruf-hurufnya,
kalimat-kalimatnya, bahkan sampai teknis membacanya. Untuk menjaga keaslian
Alquran, ulama menjaga sanad Alquran (runtutan parapengajar Alquran sejak zaman
Rasul hingga sekarang). Maka tidak heran kalau Imam Al-Jazari mewajibkan kepada
setiap muslim untuk membaca dengan tajwid, karena hal ini merupakan penjagaan
terhadap keaslian Alquran. Beliau mengatakan dalam mandzumah Al-Jazariyah:

“Membaca Alquran dengan tajwid hukumnya wajib, barang
siapa yang tidak membacanya dengan tajwid maka berdosa, karena dengan tajwidlah
Allah menurunkan Alquran, dan demikianlah Alquran sampai kepada kita
dari-Nya.”

Karena itulah, metode yang asasi dan asli dalam mempelajari
Alquran adalah dengan metode Talaqqi yaitu mempelajari Alquran melalui seorang
guru secara langsung atau berhadap-hadapan, dimulai dari surat Al-Fatihah
sampai An-Naas.

Mengingat terbatasnya jumlah orang-orang yang menguasai
Alquran terutama dalam hal tilawah, maka ulama ahli qiraat meletakkan
kaidah-kaidah cara membaca yang baik dan benar yang disebut dengan tajwid.

Dengan buku ini penulis berharap bisa membantu kaum muslimin
dalam mempelajari ilmu tajwid secara aplikatif dan mampu mempraktikkan tilawah
dengan shahih. Disusun secara aplikatif dan dilengkapi dengan kaset bimbingan
tahsin tilawah, yang mengacu pada latihan-latihan yang ada pada setiap babnya.

Berikut ini penulis paparkan sekilas mengenai sistematika
yang terdapat dalam buku ini,

Bab l Pendahuluan

Bab II Pengantar Ilmu Tajwid

Bab ini menjelaskan definisi ilmu tajwid, hukum mempelajari,
keutamaan mempelajari, tujuan mempelajari, dan sebagainya.

Bab III, IV Tempat-tempat Keluarnya Huruf &
Sifat-sifatnya

Pada dua bab ini, kami jelaskan tempat-tempat keluarnya
huruf dan sifat-sifat yang dimiliki oleh setiap huruf hijaiyah. Dengan
dilengkapi gambar tempat-tempat keluarnya huruf dan latihan, semoga pembaca
dapat memahami gambaran dan pemahaman pengucapan huruf yang baik dan benar.

Bab V Hukum Nun Mati dan Tan win

Bab ini menjelaskan bagaimana membaca nun mati atau tan win
ketika bertemu dengan huruf-huruf hijaiyah menurut riwayat yang masyhur.

Bab VI Hukum Mim Mati

Bab ini menjelaskan bagaimana membaca mim mati ketika
bertemu dengan huruf-huruf hijaiyah menurut riwayat yang masyhur.

Bab VII Hukum Mim dan Nun bertasydid

Bab ini menjelaskan bagaimana membaca mim dan nun yang
bertasydid.

Bab VIII Hukum Alif Lam

Bab ini menjelaskan bagaimana membaca alif lam ketika
bertemudengan huruf-huruf hijaiyah.

Bab lX Hukum Mad

Bab ini menjelaskan bagaimana dan kapan sesorang harus
memanjangkan bacaan dalam Alquran dengan kadar-kadar tertentu, misalnya 2,4,
atau 6 harakat.

Bab X Tafkhim dan Tarqiq

Bab ini menjelaskan bagaimana dan kapan seorang pembaca
Alquran harus menebalkan dan menipiskan suara ketika membaca huruf-huruf
isti’la, huruf ra’, dan lafzh al jalalah.

Bab XI Idgham Mutamatsilain, Mutajanisain, dan Mutaqaribain

Bab ini menjelaskan hukum idgham dan pembagiannya
berdasarkan tempat-tempat keluarnya huruf.

Bab XII Waqof & Pembagiannya

Bab ini menjelaskan bagaimana cara berwaqaf ketika membaca
Alquran, pembagian waqaf dan tanda-tanda waqaf yang terdapat dalam Alquran
standar.

Bab XIII Istilah-istilah Dalam Alquran

Bab ini menjelaskan beberapa istilah dan ayat-ayat gharib
dalam Alquran dan cara membacanya menurut riwayat yang masyhur, dimana
keberadaannya cukup jarang di dalam Aquran sehingga tidak sedikit para pembaca
Alquran yang tidak mengetahuinya.

Bab XIV Hamzah Qatha’ dan Hamzah Washal

Bab ini menjelaskan beberapa kaidah praktis membaca hamzah
didalam Alquran, mengingat sebagian besar pembaca Alquran belum menguasai
kaidah bahasa arab dengan baik

Pengantar llmu Tajwid

Definisi llmu Tajwid

Lafadz Tajwid menurut bahasa artinya membaguskan. Sedangkan
menurut istilah adalah:

“Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya dengan
memberi hak dan mustahaknya.”

Yang dimaksud dengan hak huruf adalah sifat asli yang selalu
bersama dengan huruf tersebut, seperti AI Jahr, Isti’la’, istifal dan lain
sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan mustahak huruf adalah sifat yang
nampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim, tarqiq, ikhfa’ dan lain sebagainya.

Hukum Mempelajari llmu Tajwid

Hukum mempelajari Ilmu Tajwid secara teori adalah fardhu
kifayah, sedangkan hukum membaca Alquran sesuai dengan kaidah ilmu tajwid
adalah fardhu ‘ain.

Jadi, mungkin saja terjadi seorang Qori’ bacaannya bagus dan
benar, namun sama sekali ia tidak mengetahui istilah-istilah ilmu Tajwid
semisal izh-har, mad dan lain sebagainya. Baginya hal itu sudah cukup bila kaum
muslimin yang lain telah banyak yang mempelajari teori ilmu Tajwid, karena
-sekali lagi- mempelajari teorinya hanya fardhu kifayah. Akan lain halnya
dengan orang yang tidak mampu membaca Alquran sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu
Tajwid. Menjadi wajib baginya untuk berusaha membaguskan bacaannya sehingga
mencapai standar yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.

Dalil kewajiban membaca Alquran dengan tajwid adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah

“Dan bacalah Alquran dengan tartil” (QS. 73: 4)

Imam Ali bin Abi Tholib menjelaskan arti tartil dalam ayat
ini, yaitu mentajwidkan huruf-hurufnya dan mengetahui tempat-tempat waqof.

2. Sabda Rasulullah SAW

“Bacalah Alquran sesuai dengan cara dan suara
orang-orang Arab. Dan jauhilah olehmu cara baca orang-orang fasik dan berdosa
besar. Maka sesungguhnya akan datang beberapa kaum setelahku melagukan Alquran
seperti nyanyian dan rohbaniah (membaca tanpa tadabbur) dan nyanyian. Suara
mereka tidak dapat melewati tenggorokan mereka (tidak dapat meresap ke dalam
hati). Hati mereka dan orang-orang yang simpati kepada mereka telah terfitnah
(keluar dari jalan yang lurus).”

Adapun alasan mengapa hukum membaca Alquran dengan tajwid
adalah fardhu ‘ain, Imam Ibnul Jazari mengatakan:

“Membaca (Alquran) dengan tajwid hukumnya wajib,
barangsiapa yang tidak membacanya dengan tajwid ia berdosa, karena dengan
tajwidlah Allah menurunkan Alquran, dan dengan demikian pula Alquran sampai
kepada kita dari-Nya.”

Fadhilah (Keutamaan) llmu Tajwid

Ilmu Tajwid adalah ilmu yang sangat mulia. Hal ini karena
keterkaitannya secara langsung dengan Alquran. Bahkan dalam dunia ilmu hadits,
seorang alim tidak akan mengajarkan hadits kepada muridnya sehingga ia sudah
menguasai ilmu Alquran. Diantara keistimewaannya adalah sebagai berikut:

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan
mengajarkannya ”

1. Mempelajari dan mengajarkan Alquran merupakan tolok ukur
kualitas seorang muslim. Sabda Rasulullah SAW:

2. Mempelajari Alquran adalah sebaik-baik kesibukan. Allah
SWT berfirman dalam hadits Qudsi:

“Barang siapa yang disibukkan oleh Alquran dalam rangka
berdzikir kepadaKu dan memohon kepadaKu niscaya Aku akan memberikan sesuatu
yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang
telah meminta. Dan keutamaan Kalam Allah daripada seluruh kalam yang selain-Nya
seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.”

3. Dengan mempelajari Alquran, maka akan turun sakinah
(ketentraman), rahmat, malaikat dan Allah menyebut-nyebut orang yang
mempelajari Alquran kepada makhluk yang ada di sisiNya. Rasulullah bersabda:

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu masjid dari
masjid-masjid Allah kemudian mereka membaca Alquran dan mempelajarinya,
melainkan turun kepada mereka ketentraman, diliputi dengan rahmat, dinaungi
oleh malaikat, dan disebut-sebut oleh Allah di hadapan makhluk-Nya.”

Tujuan Mempelajari llmu Tajwid

Tujuan mempelajari ilmu tajwid adalah untuk menjaga lidah
agar terhindar dari kesalahan dalam membaca Alquran. Kesalahan dalam membaca Alquran disebut dengan istilah lahn

Melakukan kesalahan ini (lahn jaly) dengan sengaja hukumnya haram.

Lahn Khafi adalah kesalahan yang terjadi ketika membaca lafazh-lafazh dalam Alquran yang menyalahi ‘urf qurro, namun tidak
sampai merubah arti. Seperti tidak membaca ghunnah, kurang panjang dalam
membaca mad wajib muttashil, dan Iain-lain. Melakukan kesalahan ini dengan
sengaja hukumnya makruh.

Tingkatan Membaca Alquran

Tingkatan bacaan yang diakui oleh ulama qiroat ada empat Yakni: Tahqiq, tartil, tadwir dan hadr. Tartil adalah bacaan dengan standar, yakni pertengahan antara Tahqiq dan Tadwir. Bacaan ini
adalah bacaan yang paling bagus karena sesuai dengan bacaan Alquran saat
diturunkan. Allah Swt. Berfirman:

“Dan Kami bacakan Alquran itu dengan tartil.” (QS
25: 32)

At Tadwir, yaitu bacaan yang tidak terlalu cepat dan tidak
terlalu lambat, yakni pertengahan antara Al Hadr dan At Tartil namun masih
bertajwid.

Al Hadr, yaitu bacaan yang dilakukan dengan tingkatan paling
cepat namun tetap mempraktikkan tajwidnya.

Hukum membaca Isti’adzah dan Basmalah

Yang dimaksud dengan isti ‘adzah adalah membaca Hukum
membaca isti’adzah sebelum memulai tilawah adalah sunnah. Firman Allah Swt:

“Apabila kamu hendak membaca Alquran maka berlindunglah
kepada Allah dari syetan yang terkutuk.” (QS. 16:98)

Adapun membaca basmalah sangat dianjurkan (mustahabbah),
baik di awal surat atau pertengahan surat -kecuali pada surat At Taubah – baik
dilakukan dengan suara keras atau pelan. Sebagian ulama Qira’at memberinya hukum
Wajib Sina”i, artinya kewajiban yang apabila ditinggalkan tidak berdosa.
Istilah tersebut digunakan karena Rasulullah sangat menganjurkan membaca
basmalah, sebagaimana di dalam sabdanya:

“Setiap perkara yang mempunyai nilai yang tidak dimulai
dengan basmalah maka terputuslah (barokahnya).”

Adapun menyambungkan swat AlAnfal dan At Taubah boleh secara
terpisah, bersambung dan terpisah tanpa nafas (dengan cara saktah). Contoh:

a. Terpisah

b. Bersambung

c. Terpisah tanpa bernafas

Adapun menyambung akhir surat dengan basmalah, kemudian
berhenti dan memulai surat yang baru adalah satu cara yang tidak dibenarkan,
karena terkesan basmalah itu bagian dari surat secara keseluruhannya. Contoh:

Keutamaan Membaca Isti’adzah

Imam Ibnul Qoyim menjelaskan beberapa hal mengapa Allah SWT
menganjurkan kepada setiap pembaca Alquran untuk beristi’adzah atau memohon
pelindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk: 1. Alquran adalah obat untuk
penyakit-penyakit hati. Allah SWT berflrman:

“Wahai manusia, telah datang kepadamu pelajaran dari
Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. 10: 57)

Maka, ketika Allah memerintahkan kepada kita beristi’adzah,
maksudnya adalah agar Alquran benar-benar kita fungsikan sebagai syifa’ bagi
penyakit-penyakit yang ada di dalam dada-tanpa dipengaruhi oleh setan. Karena
jika tidak, ada kemungkinan Alquran tidak lagi menjadi obat yang mujarab yang
dapat menyembuhkan.

2. Setan diciptakan dari api yang bisa membakar apa saja.
Sedangkan Alquran adalah dzat yang dapat membawa hidayah, pengetahuan dan
siraman bagi hati. Karena itu Allah menyuruh beristi’adzah agar setan tidak
mampu membakar sekaligus sebagai peredam.

3. Sesungguhnya malaikat selalu mendekati pembaca Alquran
dan mendengarkannya, sebagaimana pernah terjadi pada Usaid bin Hudhair, ketika
membaca Alquran ia melihat semacam awan yang di dalamnya terdapat lampu-lampu
mendekatinya. Ketika ditanyakan kepada Rasulullah SAW, beliau menyatakan bahwa itu
adalah malaikat (Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Bukhari dan Muslim). Oleh karena itulah Allah menyuruh beristi’adzah agar
terhindar dari kehadiran setan namun selalu dihadiri malaikat.

4. Allah SWT menjelaskan bahwa setan dan bala tentaranya
selalu berusaha memalingkan manusia dari mengingat Allah. Ketika seseorang
membaca Alquran, setan terus mengganggunya dan mencegahnya dari mentadabburi
Alquran. Allah berfirman:

“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi diantara mereka
dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan
yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan
beri janjilah pada mereka, dan tidak ada yang dijanjikan setan kepada mereka
melainkan tipu daya belaka.” (QS 47: 6A)

5. Dalam hadits dijelaskan bahwa Allah sangat bersemangat
mendengarkan tilawah Alquran dari hamba-hamba-Nya. Sabda Rasulullah,

“Sesungguhnya Allah lebih bersemangat mendengarkan
seorang laki-laki yang bagus bacaan Alqurannya meleblhi (semangat) seseorang
yang cinta nyanyian ketika mendengarkan nyanyiannya.”

Setan sangat suka mendengarkan alunan-alunan musik yang
membuai. Maka dengan isti’adzah, insya Allah dapat menghindarkan pembaca dari
kehadiran setan, dan sebaliknya kehadiran Allah.

6. Setan mempunyai sifat ingin mencegah siapa saja yang
ingin berbuat amal saleh, termasuk orang yang ingin atau sedang membaca
Alquran. Bahkan Nabi pun digodanya. Beliau pernah bersabda:

“Sesungguhnya setan tadi malam menggodaku dan hendak
membatalkan shalatku.”

Oleh karena itu, semakin besar nilai yang kita kerjakan
semakin besar pula usaha setan untuk mencegahnya, maka dengan isti’adzah
seorang pembaca terjauhkan dari godaan setan.

Tempat-tempat Keluarnya Huruf

Untuk membantu agar lebih cepat dan tepat dalam mempelajari
makhroj huruf, ulama Qira’at menuangkan pengucapan setiap huruf dalam bentuk
tulisan. Dengan mengetahui makhroj huruf dan ditopang dengan latihan secara
terus menerus dalam mengucapkannya, maka akan dapat memperlancar lidah dalam mengucapkan
huruf dengan baik dan benar.

Secara global makhroj huruf ada lima tempat:

  • Rongga Mulut
  • Tenggorokan
  • Lidah
  • Dua Bibir
  • Rongga Hidung

Sedangkan secara terperinci berjumlah tujuh belas, yaitu:

Tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyah (29) itu memang
banyak yang berpendapat, namun dari sekian pendapat yang paling banyak diikuti
oleh ulama qurro’ dan ahlul ada’ adalah pendapat Syekh Kholil bin Ahmad
an-Nahwiy (Guru Imam Sibaweh). Adapun menurut beliau Makhorijul Huruf Hujaiyah
itu ada 17 tempat, dan bila diringkas ada 5 tempat, yatu; Al-Jauf (lubang
/rongga mulut), Al-Halqu (tenggorokan / kerongkongan), Al-Lisanu (lidah),
Asy-Syafatain (dua bibir) dan Al-Khoisyum (janur hidung).

Penjelasan dari masing-masing makhorijul huruf tersebut
adalah sebagai berikut :

a. Al-Jauf (الجوف), artinya rongga
mulut dan rongga tenggorokan.

Yaitu tempat keluarnya huruf hijaiyah yang terletak pada
rongga mulut dan rongga tenggorokan. Bunyi huruf yang keluar dari rongga mulut
dan rongga tenggorokan ada tiga macam, yaitu ; alif ( ا ),
wawu mati ( وْ ) dan ya’ mati ( يْ ) dengan penjelasan
sebagai berikut :

1) Alif dan sebelumnya ada huruf yang difathah Contoh : مَالَا غَوَى

2) Wawu mati dan sebelumnya ada huruf yang didhommah Contoh
:قُوْلُوْا

3) Ya’ mati dan sebelumnya ada huruf yang dikasrah Contoh :

حَامِدِيْنَ

b. Al-Halqu (الحلق), artinya tenggorokan
/ kerongkongan

Yaitu tempat keluar bunyi huruf hijaiyah yang terletak pada
kerongkongan / tenggorokan. Dan berdasarkan perbedaan teknis pelafalannya,
huruf-huruf halqiyah (huruf-huruf yang keluar dari tenggorokan) dibagi menjadi
tiga bagian yaitu ;

1) Aqshal halqiy (pangkal tenggorokan), yaitu huruf hamzah (
ء )dan ha’ ( ه )

2) Wasthul halqiy (pertengahan tenggorokan), yaitu huruf ha’
( ح ) dan ’ain ( ع )

3) Adnal halqiy (ujung tenggorokan), yaitu huruf ghoin ( غ ) dan kho’ ( خ )

c. Al-Lisan (اللسان), artinya lidah

Bunyi huruf hijaiyah dengan tempat keluarnya dari lidah ada
18 huruf, yaitu : Berdasarkan delapan belas huruf itu dapat dikelompokkan
menjadi 10 makhraj, yaitu sebagai berikut :

1) Pangkal lidah dan langit-langit mulut bagian belakang,
yaitu huruf Qof (ق). Maksudnya bunyi huruf qof ini keluar dari pangkal lidah dekat
dengan kerongkongan yang dihimpitkan ke langit-langit mulut bagian belakang.

2) Pangkal lidah bagian tengah dan langit-langit mulut
bagian tengah, yaitu huruf Kaf (ك). Maksudnya bunyi
huruf kaf ini keluar dari pangkal lidah di depan makhraj huruf qof, yang
dihimpitkan ke langit-langit bagian mulut bagian tengah.

“Dua huruf tersebut ( ق )
dan ( ك ), lazimnya disebut huruf LAHAWIYAH ( لهويّة
), artinya huruf-huruf sebangsa anak mulut atau sebangsa telak lidah.”

3) Tengah-tengah lidah, yaitu huruf Jim ( ج ),
Syin ( ش ) dan Ya’ (ي ). Maksudnya bunyi huruf-huruf tersebut keluar dari
tengah-tengah lidah tepat, serta menepati langit-langit mulut yang tepat di
atasnya.

“Tiga huruf ini lazimnya disebut huruf SYAJARIYAH ( شجريّة ), artinya huruf-huruf sebangsa tengah
lidah.”

4) Pangkat tepi lidah, yaitu huruf Dlod ( ض ).

Maksudnya bunyi huruf Dlod ( ض )
keluar dari tepi lidah (boleh tepi lidah kanan atau kiri) hingga sambung dengan
makhrojnya huruf lam, serta menepati graham.

“Huruf Dlod ( ض ) ini lazimnya disebut
huruf JAMBIYAH (حنبيّة), artinya huruf sebangsa tepi lidah.”

5) Ujung tepi lidah, yaitu huruf Lam (ل).

Maksudnya bunyi huruf Lam (ل)
keluar dari tepi lidah (sebelah kiri/kanan) hingga penghabisan ujung lidah,
serta menepati dengan langit-langit mulut atas.

6) Ujung lidah, yaitu huruf Nun (ن).

Maksudnya bunyi huruf Nun (ن)
keluar dari ujung lidah (setelah makhrojnya Lam (ل),
lebih masuk sedikit ke dasar lidah dari pada Lam (ل)),
serta menepati dengan langit-langit mulut atas.

7) Ujung lidah tepat, yaitu huruf Ro’ (ر).

Maksudnya bunyi huruf Ro’ (ر)
keluar dari ujung lidah tepat (setelah makhrojnya Nun dan lebih masuk ke dasar
lidah dari pda Nun), serta menepati dengan langit-langit mulut atas.

“Tiga huruf tersebut di atas (Lam, Nun dan Ro’), lazimnya
disebut huruf DZALQIYAH (ذلقية), artinya huruf-huruf sebangsa ujung
lidah.”

8). Kulit gusi atas, yaitu Dal (د),
Ta’ (ت) dan Tho’ (ط).

Maksudnya bunyi huruf-huruf tersebut keluar dari ujung
lidah, serta menepat i dengan pangkal dua gigi seri yang atas.

“Tiga huruf tersebut lazimnya disebut NATH’IYAH (نطغية), artinya huruf-huruf sebangsa kulit gusi
atas.”

9) Runcing lidah, yaitu huruf Shod (ص),
Sin (س) dan Za’ (ز).

Maksudnya bunyi huruf-huruf tersebut keluar dari ujung
lidah, serta menepati ujung dua gigi seri yang bawah.

“Tiga huruf tersebut lazimnya disebut huruf ASALIYAH (أسلية), artinya huruf-huruf sebangsa runcing
lidah.”

10) Gusi, yaitu huruf Dho’ (ظ),
Tsa’ (ث) dan Dzal (ذ).

Maksudnya huruf-huruf tersebut keluar dari ujung lidah,
serta menepati dengan ujung dua gigi seri yang atas.

“Tiga huruf ini lazimnya disebut huruf LITSAWIYAH (لثوية), artinyahuruf sebangsa gusi.”

d. Al-Syafatain, artinya dua bibir

Yaitu tempat keluarnya huruf hijaiyah yang terletak pada
kedua bibir.Yang termasuk huruf-huruf syafatain ialah wawu (و),
fa’ (ف), mim (م) dan ba’ (ب) dengan perincian sebagai berikut :

1) Fa’ (ف) keluar dari dalamnya bibir yang bawah, serta menepati dengan
ujung dua gigi seri yang atas.

2) Wawu, Ba, Mim (و , ب , م) keluar dari antara
dua bibir (antara bibir atas dan bawah). Hanya saja untuk Wawu bibir membuka,
sedangkan untuk Ba dan Mim bibir membungkam.

“Empat huruf tersebut di atas lazimnya disebut huruf
SYAFAWIYAH, artinya huruf-huruf sebangsa bibir.”

e. Al-Khaisyum, artinya pangkal hidung

Yaitu tempat keluarnya huruf hijaiyah yang terletak pada
janur hidung. Dan jika kita menutup hidung ketika membunyikan huruf tersebut,
maka tidak dapat terdengar. Adapun huruf-hurufnya yaitu huruf-huruf ghunnah mim
dan nun dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Nun bertasydid (نّ)

2) Mim bertasydid (مّ)

3) Nun sukun yang dibaca idghom bigunnah, iqlab dan ikhfa’
haqiqiy

4) Mim sukun yang bertemu dengan mim (م)
atau ba (ب)

SIFATUL HURUF = SIFAT-SIFAT HURUF

Pengertian menurut bahasa: Apa-apa yang ada pada sesuatu
yang dapat memberikan makna, seperti hitam, putih dan apa-apa yang
menyerupainya.

Pengertian menurut istilah: Sifat yang baru datang pada
sa’at huruf itu keluar dari makhrojnya, yaitu jelas, lunak dan lain sebagainya.

Tujuan mempelajari sifat-sifat huruf: Agar huruf yang keluar dari mulut kita
semakin sesuai dengan keaslian huruf-huruf Al-Qur’an itu sendiri.

Melalui sifatnya, seseorang itu akan mampu membedakan suatu
huruf, dengan keadaan pengucapan seperti tertahan, berdesing, melantun dan
sebagainya.

Kelebihan memahami sifat huruf ini adalah sebagai pelengkap kepada makhroj.
Dengan mengetahui sifatnya, kita dapat membedakan lafadz pengucapan bagi huruf
yang makhrojnya sama.

Tambahan pula, kita akan dapat mengenal huruf yang kuat dan
lemah atau huruf yang dilafadzkan secara tebal dan tipis karena sifat yang
wujud pada hurufnya.

Sifat huruf juga membantu ketepatan sebutan suatu huruf
supaya dapat dilafadzkan dengan betul, terutamanya bagi huruf yang hampir sama
pengucapannya seperti huruf tha (ث) dengan sin (س),  ha’ (ح) dengan ha ().

Pendapat Ulama Tentang Jumlah Bilangan Sifat Huruf.

Biasanya pendapat yang digunakan ialah pendapat Ibnu Jazari,
yaitu terdapat 17 sifat huruf semuanya. 

Sifat Huruf Terbagi Kepada Dua:
A. Sifat yang mempunyai lawan.

B. Sifat yang tidak mempunyai lawan.
Keterangan:
A. Sifat yang mempunyai lawan:
(Ash-Shifatul Mutadhadah- لصِّفَاتُ اْلمُتَضَادَةُ)

Sifat ini disebut juga Sifat Lazimah – ﻻﺯﻣﻪ yaitu: Ciri kekal yang pasti ada pada setiap pengucapan
huruf dalam semua keadaan, baik itu pada keadaan berbaris maupun mati.

Terdapat 10 sifat tergolong dalam kategori ini:

 الْهَمْسُ ~ Al-Hamsu, lawan-nya   الْجَهْرُ ~ Al-Jahru

 الشِّدَّةُ ~ Asy-Syiddah, lawan-nya  الرَّخاَوَةُ ~ Ar-Rakhawah
 الاِسْتِعْلاََءُ ~ Al-Isti’la’  lawan-nya الاِسْتِفاَلُ ~ Al-Istifal
 الاِطْباَقُ ~ Al-Itbaq  lawan-nya الاِنْفِتاَحُ ~ Al-Infitah
 الاِذْلاَقُُ ~ Al-Izhlaq  lawan-nya الاِصْماَتُ ~ Al-Ishmat

  Uraian;

 الْهَمْسُ ~ Al-Hamsu, lawan-nya   الْجَهْرُ ~ Al-Jahru

1. الْهَمْسُ ~ Al-Hamsu

Menurut bahasa  adalah: Suara yang disembunyikan/
disamarkan. 
Menurut istilah adalah: Keluarnya/berhembusnya nafas ketika mengucapkan huruf.

Terdapat 10 huruf yang bersifat Hams.
Dikelompokkan dalam lafadz: فَحَثَّهُُ شَخْصٌ سَكَتَ : [fahatsahu syakhshun sakata:  ف ,ح ث ,ه  ,ش , خ ,ص ,س ,ك ,ت ]

2.  الْجَهْرُ ~ Al-Jahru/Al-Jahr
Menurut bahasa adalah: Jelas, terang dan nyata.

Menurut istilah adalah: Tertahannya nafas ketika mengucapkan
huruf.
 
Huruf-hurufnya ialah 18 huruf, yang berwarna abu-abu;  yaitu ; أ ب ج د ذ ر ز ض ط ظ ع غ ق ل م ن و ي 

Al-Hamsu lawan-nya Al-Jahru maksudnya: “Bila sifat Al-Hams
mengeluarkan nafas bersama pengucapan huruf sebaliknya Al-Jahr menahan
nafas,  ketika pengucapan huruf-hurufnya.”

 الشِّدَّةُ ~ Asy-Syiddah, lawan-nya  الرَّخاَوَةُ ~ Ar-Rakhawah

3. الشِّدَّةُ ~ Asy-Syiddah 

Menurut bahasa  adalah:  Kuat.

Menurut istilah adalah: Tertahannya suara sejenak di tempat
makhroj, kemudian melepaskannya secara tiba-tiba bersama udara.

Terdapat 8 huruf yang bersifat Syiddah 
Dikelompokkan dalam lafadz : أَجِدُ قَطٌّ بَكَتْ:  ajidu qattun bakat  yaitu : ء ,ج ,د ,ق , ط ,ب , ك  dan ت

4. الرَّخاَوَةُ~ Ar-Rakhawah

Menurut bahasa adalah:   Lunak atau lemah lembut.

Menurut istilah adalah: Mengeluarkan suara ketika
melafadzkan huruf tanpa ada hambatan.

Hurufnya ada 15, yaitu selain huruf  Syiddah dan
At-Tawas-suth/Mutawassith , yaitu; ث ح خ ذ ز س ش ص ض ظ ف و ه ي غ 

Asy-Syiddah, lawan-nya Ar-Rakhawah maksudnya: “Bila Asy- Syiddah menahan
suara sebelum pengucapan huruf, sebaliknya Ar-Rakhawah dengan mengeluarkan
suara ketika melafadzkan huruf tanpa ada hambatan.”
 
Antara Asy-Syiddah dan Ar-Rakhawah adalah At-Tawasuth. Menurut bahasa adalah:  Pertengahan atau sedang.

Menurut istilah adalah: Pertengahan suara sa’at mengucapkan huruf, yakni antara
tertahannya suara seperti dalam huruf-huruf Syiddah dan tidak tertahannya suara
seperti dalam huruf-huruf Rakhawah. 

Terdapat 5 huruf yang bersifat At-Tawas-suth.
Dikelompokkan dalam lafadz :  لن عمر : lin ‘umara; ل , ن , ع , م  ,ر

 

 

  الاِسْتِعْلاََءُ ~ Al-Isti’la’  lawan-nya  الاِسْتِفاَلُ ~ Al-Istifal

 

5. الاِسْتِعْلاََءُ ~ Al-Isti’la’
Menurut bahasa adalah: Terangkat.

Menurut istilah adalah: Pengucapan huruf dengan terangkatnya
sebagian besar lidah ke langit-langit.

Hurufnya ada 7.
Dikelompokkan dalam lafadz : خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ:  khush-sha ḍhaghṭin qiz,  
yaitu : خ ,ص ,ض ,غ  ,ط  ,ق ,ظ.

6.  الاِسْتِفاَلُ ~ Al-Istifal 
Menurut bahasa adalah: Menurun. 
Menurut istilah adalah : Pengucapan huruf disertai dengan menurunkan sebahagian
besar lidah ke dasar permukaan mulut.

Hurufnya ada 21 yaitu selain huruf-huruf Isti’la

 Al-Isti’la’  lawan-nya Al-Istifal, maksudnya : “Bila
Al-Isti’la’ terangkatnya sebagian besar lidah ke langit-langit sebaliknya
Al-Istifal menurunkan sebahagian besar lidah ke dasar permukaan mulut.”

  الاِطْباَقُ ~ Al-Itbaq  lawan-nya الاِنْفِتاَحُ ~ Al-Infitah

 

7. الاِطْباَقُ ~ Al-Itbaq
Menurut bahasa adalah:  Menutup.

Menurut istilah : Pengucapan hurufnya, dengan lingkaran
sekeliling lidah  menutup ke arah langit-langit.

Hurufnya ada 4.
Dikelompokkan dalam lafadz  صضطظ  yaitu  ص ,ض ,ط , ظ

8. الاِنْفِتاَحُ ~ Al-Infitah
Menurut bahasa adalah: Terpisah.
Menurut istilah adalah: Pengucapan hurufnya, dengan merenggangkan lidah dari
langit-langit.
 
Hurufnya ada 24, semua huruf hijaiyah selain   ص ,ض ,ط , ظ

Al-Itbaq lawan-nya Al-Infitah maksudnya: “Bila Al-Itbaq, lingkaran
sekeliling lidah menutup ke arah langit-langit sebaliknya Al-Infitah
meregangkan lidah dari langit-langit

  الاِذْلاَقُُ ~ Al-Izhlaq  lawan-nya الاِصْماَتُ ~ Al-Ishmat

 

9. الاِذْلاَقُُ ~ Al-Izhlaq 
Menurut bahasa adalah: Bagian lancip lidah.

Menurut istilah adalah: Pengucapan huruf  dengan ringan
dan cepat, karena makhrojnya di ujung lidah dan sebagian lagi keluar dari dua
bibir.

Hurufnya ada 6. 

Dikelompokkan dalam lafadz  فِرَّ مِنْ لُبٌّ:
firra min lubbin yaitu ; ف رم ن ل ب
 
10. الاِصْماَتُ ~ Al-Ishmat

Menurut bahasa adalah:  Tercegah.
Menurut istilah adalah: Pengucapan hurufnya  agak berat dan tidak dapat
dilafadzkan dengan cepat, karena makhrojnya jauh dari ujung lidah. 
 
Hurufnya ada 22, yaitu selain huruf Idzlaq.
 
Al-Izhlaq  lawan-nya Al-Ishmat makskudnya: “Bila Al-Izhlaq pengucapan
huruf  dengan ringan dan cepat, sebaiknya Al-Ishmat pengucapan
hurufnya  agak berat dan tidak dapat dilafadzkan dengan cepat karena
makhrojnya jauh dari ujung lidah.”
 
B. Sifat yang tidak mempunyai lawan.

Sifat ini disebut juga dengan Ash-Shifatul Ghairu Mutadhadah
الصِّفَاتُ غَيرُ اْلمُتَضَادَةُ atau Sifat ‘Aridhah –
ﻋﺎﺭﻀﻪ

Ash-Shifatul Ghairu Mutadhadah atau sifat ‘Aridhah yaitu: Ciri yang
berubah-ubah bagi suatu huruf, seperti tarqiq (tipis), tafkhim (tebal), ghunnah
(dengung), idgham (meleburkan huruf), atau ikhfa’ (menyamarkan huruf)’, panjang
atau pendek dan seumpamanya.

Terdapat 7 sifat tergolong dalam kategori ini:

1. Safir (ﺻﻔﺮ

2. Qalqalah (ﻗﻠﻘﻠﻪ)
3. Lin (ﻟﻴﻦ)
4. Inhiraf (ﺇﻧﺤﺮﺍﻑ)
5. Takrir(ﺗﻜﺮﻳﺮ )
6. Tafasysyi (ﺗﻔﺸﻰ )
7. Istitolah (ﺇﺳﺘﻂﺎﻟﻪ )

Uraian: : 

 1. Safir (ﺻﻔﺮ

Menurut bahasa adalah: Suara yang menyerupai suara
unggas/burung.
Menurut istilah adalah: Suara tambahan yang keluar dengan kuat diantara ujung
lidah dan gigi seri.

Hurufnya ada 3, yaitu : shād (ص), zāy (ز ), dan sīn (س). 
Bunyi desiran yang berlaku pada huruf sād paling kuat dibanding zāy dan
berikutnya.

Perbedaan sifat Safir dengan Hams adalah: desiran nafas yang lebih kuat
dibanding dengan Hams yang sekadar membunyikan hurufnya dengan hembusan nafas
yang lebih ringan.
 

2. Qalqalah (ﻗﻠﻘﻠﻪ) – memantul 
.
Menurut bahasa adalah: Bergetar
Menurut istilah adalah: Pengucapan huruf sukun (mati) yang disertai getaran
(pantulan) suara pada makhrojnya sehingga terdengar suara yang kuat.  

Huruf qalqalah ada lima
Dikelompokkan dalam lafaz قُطْبُ جَدٍّ  qutubujaddin: ق
,ط  ,ب ,ج  ,د

 
 Qalqalah terbagi menjadi dua jenis:
 
a. Qalqalah kecil (shugra) yaitu: apabila salah satu daripada huruf qalqalah
itu berbaris mati dan baris matinya adalah asli karena harakat sukun dan bukan
karena waqaf.
 
Contoh:  ﻴَﻄْﻤَﻌُﻮﻥَ ,ﻴَﺪْﻋُﻮﻥَ

b. Qalqalah besar(kubra) yaitu: apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu
dimatikan karena waqaf atau berhenti. Dalam keadaan ini, qalqalah dilakukan
apabila bacaan diwaqafkan tetapi tidak diqalqalahkan apabila bacaan diteruskan.

Contoh:  ٱﻟْﻔَﻟَﻖِ ,ﻋَﻟَﻖٍ 
 
Huruf , ﻕ  pantulannya mendekati suara o.  
Sedangkan untuk huruf lainnya terdengar mendekati lafazh e.
Harus kelihatan lebih jelas dan kuat ketika waqaf pada huruf yang bertasydid,
seperti; وَتَبَّ ,اَلْحَجّ ,اَلْحَقَّ

Cara Membaca Qolqolah:
Berikut ini adalah panduan ketukan ketika membaca Qolqolah.
Perhatikan contoh berikut:

 

Pada contoh di atas, suara qolqolah terjadi di tiga tempat, yaitu pada ketukan
ke-4, ke-6 dan ketukan ke-9. Cara membacanya berdasarkan alur ketukan adalah
sebagai berikut:

Ketukan ke-3 berbunyi “jud”. Tahan lidah pada posisi huruf
“d” (jangan dilepaskan) hingga ketukan ke-4, saat keluar bunyi “de”. Penahanan
lidah pada ketukan ke-3 bertujuan agar tidak muncul bunyi qolqolah 2 kali.

Ketukan ke-5 berbunyi “waq”. Tahan lidah pada posisi huruf
“q” (jangan dilepaskan) hingga ketukan ke-6, saat keluar bunyi “qo”. Penahanan
lidah pada ketukan ke-5 bertujuan agar tidak muncul bunyi qolqolah 2 kali.

Ketukan ke-8 berbunyi “rib”. Tahan bibir pada posisi huruf
“b” (jangan dilepaskan) hingga ketukan ke-9, saat keluar bunyi “be”. Penahanan
bibir pada ketukan ke-8 bertujuan agar tidak muncul bunyi qolqolah 2 kali. Agar
lebih lengkap, perhatikan juga contoh berikut ini:

 

Pada contoh di atas, bunyi qolqolah terjadi 2 kali, yaitu
pada ketukan ke-2 dan ketukan ke-7. Cara membacanya adalah:

Ketukan ke-1 berbunyi “math”. Tahan lidah pada posisi huruf
“th” (jangan dilepaskan) hingga ketukan ke-2, saat keluar bunyi “tho”.
Penahanan lidah pada ketukan ke-1 bertujuan agar tidak muncul bunyi qolqolah 2
kali.

Ketukan ke-6 berbunyi “faj”. Tahan lidah pada posisi huruf
“j” (jangan dilepaskan) hingga ketukan ke-7, saat keluar bunyi “je”. Penahanan
lidah pada ketukan ke-6 bertujuan agar tidak muncul bunyi qolqolah 2 kali.

3. Lin (ﻟﻴﻦ ) – lembut 

Menurut bahasa Lin adalah: Lembut dan Mudah.
Menurut istilah: Lin Mengeluarkan huruf dari mulut tanpa memberatkan lisan.

Hurufnya ada 2, yaitu waw و dan yā’ ي 

Pembunyian dengan sifat lin hanya berlaku apabila huruf itu mati, dan
sebelumnya ada huruf berbaris atas.

Contohnya; خَوْف dan بَيْت

4. Inhiraf (ﺇﻧﺤﺮﺍﻑ) – miring

Menurut bahasa: Condong atau miring.
Menurut istilah adalah: huruf yang pengucapannya miring setelah keluar dari
ujung lidah.

Hurufnya ada 2, lam (ل) dan ra’ (ر )
Ra’ (ر) miring bagian punggung lidah dan Lam (ل)
miring bagian permukaan lidah

5. Takrir (ﺗﻜﺮﻳﺮ) – berulang

Menurut bahasa adalah: Mengulangi
Menurut istilah adalah: Pengucapan huruf yang disertai bergetar secara berulang
pada ujung lidah

Hurufnya 1 saja, yaitu ro’ (ر).

Walau bagaimanapun, getaran yang dibenarkan adalah sekali saja, lebih-lebih
lagi pada keadaan tasydid.

6. Tafasysyi (ﺗﻔﺸﻰ ) – menyebar

Menurut bahasa adalah: Menyebar dan meluas.
Menurut istilah adalah: Pengucapan huruf disertai menyebarnya angin di dalam
mulut

Hurufnya 1 saja, yaitu syin (ش)

7. Istithollah (ﺇﺳﺘﻂﺎﻟﻪ) – memanjang

Menurut bahasa adalah: Memanjang
Menurut istilah adalah: Pengucapan huruf yang disertai memanjangnya suara dari
awal sisi lidah sampai ujungnya, di sebelah kiri atau kanan lidah.

Hurufnya 1 saja, yaitu ḍhad (ض).

Sumber:
1. Pedoman Daurah Al-Quran, Abd.Aziz Abdur R, Al-Hafizh, LC.
2. http://ms.wikipedia.org/wiki/Sifat_huruf.
3. Panduan Tahsin Tilawah Al-Quran &Ilmu Tajwid, H. Ahmad Annuri, MA.
4. VidioSheikh Abd Rahman Al-Mu’nis (Sheikh Abdoh), ,Malaysia

5. Dll.

 

 

Bagikan:

Tags

Leave a Comment