5 Hal Yang Menjadikan Syaikh Yusuf Al Qardhawi Istimewa

No comments
Syaikh Yusuf Qardhawi

Fatwapedia.com – Masing-masing ulama pasti memiliki kelebihan yang akan menjadi ciri khasnya yang membuat dia istimewa di tengah-tengah kaum muslimin di seluruh dunia. Ada ulama yang sangat pakar di bidang fikih, ushul fikih, atau akidah, ada juga yang pakar dalam bidang hadis, bahasa, atau sejarah, atau gabungan kesemuanya. Ada yang produktif menulis kitab hingga lebih dari 100 judul, ada pula yang karyanya sangat sedikit tapi dikenali sebagai ulama yang ahli ibadah lagi zuhud hidupnya, dan begitu seterusnya. Sungguh, hal yang demikian ini adalah sebuah fakta -atau lebih tepatnya disebut sebagai sunnatullah- yang berlangsung sejak dahulu kala hingga kini, yang tak akan bisa terbantahkan oleh siapa saja.

Sungguh, Al-‘Allamah Al-Faqih Asy-Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi raẖimahullâh adalah salah satu ulama besar yang sangat istimewa di abad ini sebagaimana istimewanya para ulama besar lainnya yang wafat pada tahun yang sama dengan beliau; seperti Syaikh Shalih Al-Luhaidan raẖimahullâh (w. 1443 H/ 2022 M) yang wafat pada bulan Januari atau seperti Syaikh Prof. Dr. Usamah ‘Abdul ‘Azhim raẖimahullâh (w. 1444 H/ 2022 M) yang wafat di awal bulan Oktober ini. Minimalnya, beliau istimewa dengan jumlah karya tulisnya yang sangat banyak dan bermanfaat, yang hal ini telah kita ketahui bersama.

Nah, agar kita bisa bersikap adil dan pertengahan dalam menilai seorang ulama yang sumbangsih dakwahnya tak perlu ditanyakan kembali betapa luar biasanya, dari mazhab manapun mereka, dan dari kelompok dakwah manapun mereka, maka berikut ini saya sampaikan 5 hal yang menjadikan Syaikh Al-Qaradhawi istimewa dibandingkan dengan para ulama lainnya berdasarkan apa yang telah saya ketahui tentang diri beliau setelah membaca beberapa bukunya. Hal ini penting saya utarakan, mengingat beliau ini banyak yang membencinya dan mencabik-cabik kehormatannya hanya gara-gara beberapa fatwa beliau yang dianggap keliru. Bahkan, anehnya lagi, beliau itu dibenci hanya gara-gara menjadi tokoh rujukan di kalangan Al-Ikhwan Al-Muslimun dan harakah Islam pada umumnya.

𝑲𝒆𝒊𝒔𝒕𝒊𝒎𝒆𝒘𝒂𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂, beliau dikaruniai oleh Allah Subẖânahu wa Ta’âlâ usia yang cukup panjang lagi penuh keberkahan, yang tak semua ulama memiliki usia yang panjang seperti beliau. Sebagaimana yang sering kita dengar dan ketahui bersama, dalam hadis riwayat Imam Ibnu Majah yang sanadnya dikatakan hasan sahih oleh Syaikh Al-Albani disebutkan, bahwa umatnya Rasulullah ﷺ ini hanya memiliki usia antara 60 hingga 70 tahun, dan hanya sedikit saja yang melampaui usia tersebut.

Syaikh Al-Qaradhawi sendiri, usianya ketika wafat hampir genap satu abad, yakni 96 tahun (1926-2022 M) kalau dihitung berdasarkan kalender Masehi, dan 99 tahun (1345-1444 H) kalau dihitung dengan kalender Hijriyah. Ini adalah hal yang sangat langka, dan hanya sedikit para ulama yang melampaui usia beliau, baik di masa lalu maupun di masa kita hidup sekarang ini. Sejauh yang saya tahu, ulama yang melampaui usia beliau di abad ini adalah Syaikh Abu Bakar Al-Jaza`iri yang wafat pada usia 97 tahun (1921-2018 M). Adapun di masa lalu ialah Imam Abu Syuja’ Asy-Syafi’i raẖimahullâh yang wafat pada usia 160 tahun (433-593 H) berdasarkan kalender Hijriyah. Terkait tahun kelahiran dan kewafatan beliau ini ada sedikit perbedaan di antara para ulama yang telah menulis biografinya, namun intinya usia beliau lebih dari 100 tahun.

Usia panjang yang dimiliki oleh Syaikh Al-Qaradhawi ini lagi-lagi mengingatkan kita pada hadis yang lainnya, yang berbicara tentang manusia yang paling baik menurut Nabi kita ﷺ. Dari ‘Abdullah ibn Busr, ada seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah ﷺ, siapakah manusia yang paling baik. Jawaban Rasul ﷺ,

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ.

“(Yang paling baik adalah) yang panjang umurnya dan baik pula amalnya.” (H.r. At-Tirmidzi dan Ahmad. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan)

𝑲𝒆𝒊𝒔𝒕𝒊𝒎𝒆𝒘𝒂𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒅𝒖𝒂, beliau memiliki karya tulis yang sangat banyak jumlahnya, yakni sebanyak 197 judul kitab berdasarkan artikel yang ditulis oleh Ustadz Dr. Mujahidin Nur, Lc., MA., ẖafizhahullâh (anggota Komisi Infokom MUI dan Direktur 𝘗𝘦𝘢𝘤𝘦 𝘓𝘪𝘵𝘦𝘳𝘢𝘤𝘺 𝘐𝘯𝘴𝘵𝘪𝘵𝘶𝘵𝘦, Jakarta) yang bertajuk 𝘚𝘺𝘦𝘬𝘩 𝘠𝘶𝘴𝘶𝘧 𝘈𝘭-𝘘𝘢𝘳𝘢𝘥𝘩𝘢𝘸𝘪 dan dimuat di situs web 𝘸𝘸𝘸.𝘮𝘶𝘪𝘥𝘬𝘪𝘫𝘢𝘬𝘢𝘳𝘵𝘢.𝘰𝘳.𝘪𝘥.

Sejauh yang saya tahu, ulama besar kontemporer yang menulis sebanyak Syaikh Al-Qaradhawi ini sangat sedikit sekali jumlahnya. Dari yang sedikit itu, hanya Al-‘Allamah Al-Mufassir Asy-Syaikh Wahbah Az-Zuhaili yang melampaui jumlah karya tulis beliau, yakni sebanyak 199 judul kitab sebagaimana diutarakan muridnya yang bernama Syaikh Dr. Badi’ As-Sayyid Al-Lahham di kitab beliau yang berjudul Wahbah Az-Zuẖaîlî; Al-‘Alim, Al-Faqîh, Al-Mufassir.

Lantas, bagaimana dengan karya tulisnya Al-‘Allamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani raẖimahullâh? Ya, karya beliau juga sangat banyak, yakni mencapai 217 judul kitab, yang hal ini tentu melebihi karyanya Al-Qaradhawi dan Az-Zuhaili. Demikianlah yang dicatat oleh Ustadz ‘Umar Abu Bakar di dalam kitabnya yang berjudul Al-Imâm Al-Mujaddid Al-‘Allâmah Al-Muẖaddits Muẖammad Nâshiruddîn Al-Albânî. Akan tetapi, karya beliau ini setengahnya hanya berupa taẖqîq, takhrîj, dan ta’lîq dari karya para ulama lainnya. Karenanya, jumlah karangan asli beliau sendiri tak sebanyak kedua ulama tersebut.

Karya tulis Syaikh Al-Qaradhawi yang banyak berisi ilmu yang bermanfaat tersebut laksana nyawa kedua bagi dirinya. Kenapa? Karena walaupun beliau telah meninggalkan dunia yang fana ini, beliau tetap mampu menambah perbekalan amal salehnya di alam barzakh sana. Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

“Apabila seseorang sudah meninggal maka seluruh amalannya terputus kecuali dari tiga perkara (yaitu), dari sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak saleh yang mendoakannya.” (H.r. Muslim)

Berkenaan dengan apa yang saya maksudkan ini, beliau juga pernah mengatakan di dalam kitabnya yang berjudul Fî Fiqhil Aûlawiyât. Kata beliau, “Jika umur seseorang pendek dan terbatas, maka di antara anugerah Allah yang diberikan kepadanya adalah ia diberi kesempatan untuk hidup lebih panjang, yaitu berupa amal-amal yang langgeng dan berpengaruh abadi. la hidup terus padahal tubuhnya telah mati, ia akan terus dikenang dengan amalnya yang baik, sekalipun tubuhnya sama sekali telah tiada.”

𝑲𝒆𝒊𝒔𝒕𝒊𝒎𝒆𝒘𝒂𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒈𝒂, beliau dikenal memiliki akhlak yang sangat mulia di antara sesama para ulama, walaupun ulama tersebut memiliki banyak perbedaan dengan diri beliau dalam beberapa permasalahan furu’ fiqhiyyah. Dalam masalah ini, Syaikh Al-Qaradhawi adalah seorang imam teladan di masa kita yang selalu bersikap obyektif dan moderat dengan seluruh kalangan para ulama ketika beliau mengkritik mereka.

Kemuliaan akhlak beliau ini tentu tak terlepas dari pengaruh sosok-sosok hebat lagi mulia dari para ulama yang sangat beliau kagumi dan cintai karena Allah Subẖânahu wa Ta’âlâ yang jumlahnya sangat banyak; baik dari kalangan ulama terdahulu maupun yang sezaman dengan dirinya. Yang kalau kita kerucutkan dari semua ulama tersebut, setidaknya ada tiga orang yang memberikan pengaruh terbesar pada diri beliau, yakni; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), Imam Ibnul Qayyim (w. 751 H), dan Syaikh Hasan Al-Banna (w. 1368 H/ 1949 M) raẖimahumullâh.

Tentang pentingnya memiliki akhlak yang mulia ini, maka Rasulullah ﷺ pun sering bersabda tentangnya dalam banyak kesempatan terkait dengan keutamaannya. Salah satunya adalah hadis dengan redaksi berikut ini:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا.

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (H.r. At-Tirmidzi. Dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shaẖîẖ Al-Jâmi’)

𝑲𝒆𝒊𝒔𝒕𝒊𝒎𝒆𝒘𝒂𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕, beliau mendapatkan banyak penghargaan Internasional atas sumbangsih dakwah islamiyah yang telah dilakukannya sepanjang hayatnya. Terkait hal ini, InsyaAllah akan saya bahas kemudian dalam sebuah tulisan khusus.

Sungguh, atas penghargaan-penghargaan yang telah beliau raih itu, kita pun merasa diingatkan tentang sabda Rasulullah ﷺ berikut ini:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” (H.r. Ahmad, Ath-Thabarani, dan Ad-Daruquthni. Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shaẖîẖ Al-Jâmi’)

𝑲𝒆𝒊𝒔𝒕𝒊𝒎𝒆𝒘𝒂𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒍𝒊𝒎𝒂, beliau sangat dipengaruhi oleh 3 sosok ulama yang sangat luar biasa pada masanya. Ketiga ulama tersebut sudah saya sebutkan namanya di poin ketiga. Dan InsyaAllah, poin ini pun akan saya kembangkan menjadi tulisan tersendiri nantinya.

𝐃𝐢𝐭𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐨𝐥𝐞𝐡: Abu Maryam Setiawan As-Sasaki (أبو مريم ستياوان السسكي)
Selesai ditulis pada hari Senin, 14 Rabiul Awal 1444 H/ 10 Oktober 2022, pukul 13.44 siang, bertempat di kota Mataram tercinta.

Bagikan:

Tags

Leave a Comment